Surabaya, MUIJatim.org – Umat Islam di seluruh belahan dunia menyambut dengan suka cita datangnya bulan Ramadan. Kendati bulan Ramadan tahun 1442 H ini masih dalam suasana pandemi Covid-19, namun sama sekali tidak menyurutkan semangat para umat muslim untuk berlomba-lomba mencari kebaikan.
Bagi kaum yang beriman, bulan Ramadan memiliki banyak makna. Tak hanya berdimensi spiritual dengan Sang Pencipta, namun juga terdapat dimensi sosial dengan sesama manusia. Hal tersebut dijelaskan oleh Prof Jusuf Irianto, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
“Berpuasa secara spiritual merupakan wujud penghambaan diri tunaikan kewajiban sebagai perintah suci Sang Khaliq. Secara sosial, berpuasa memiliki makna dengan spektrum yang lebih luas menyangkut kehidupan bermasyarakat,” jelasnya, Kamis (15/04/2021).
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga itu memaparkan jika bulan Ramadan merupakan momen untuk meningkatkan ibadah dengan imbalan pahala yang berlipat. Dimulai sejak terbit hingga tenggelamnya fajar, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa, menahan lapar, haus, serta hawa nafsu. Tidak hanya berhenti di situ, saat malam hari umat muslim disibukkan dengan berbagai ibadah sunah seperti tarawih, tadarus Alquran, qiyamul lail, I’tikaf, dan lain-lain.
“Ritme aktivitas ibadah yang demikian menandakan bahwa manusia menyadari betapa banyak dosa yang telah diperbuat. Sehingga hampir tak ada waktu yang diabaikan karena Ramadan merupakan bulan pengampunan,” paparnya.
Sedangkan, makna sosial ibadah merupakan wujud kebermanfaatan untuk orang lain. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW, yaitu sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
“Apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19, banyak golongan masyarakat yang membutuhkan perhatian. Di sini peran umat Islam diuji untuk segera merealisasikan bentuk ide humanism dalam kegiatan nyata,” katanya.
Oleh karena itu, Prof Jusuf mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, namun justru harus menumbuhkan kepekaan terhadap sesama.
“Puasa bukan sekadar kewajiban rutin untuk menahan lapar. Nilai tambah ibadah berpuasa justru mampu menggugah etos dan akhlak untuk selalu peduli terhadap sesama,” pungkasnya. (*)












