MUI JATIM- Kepala Bidang Pembinaan GTK Provinsi Jatim, Suhartatik menuturkan dibutuhkannya strategi dan gagasan dari guru Bimbingan Konseling (BK) untuk menyelesaikan persoalan peserta didik di sekolah. Hal itu ia sampaiakan saat menjadi narasumber webinar klinik pendidikan ke-9 yang digelar oleh Komisi Pendidikan, Kaderisasi, dan Pembinaan Seni Budaya Majelis Ulama Indoneisa (MUI) Jatim Senin (28/03/2022).
Pada webinar yang mengangkat tema ‘Pencegahan Kekerasan atau Bullying di Sekolah’ Suhartatik berharap guru BK tidak bekerja sendiri.
“Seorang guru BK tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan juga peran dari semua guru yang ada dilingkungan sekolah,” katanya saat menjawab pertanyaan dari guru BK Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Bondoswoso.
Perempuan kelahiran Kabupaten Sumenep tersebut juga menekankan untuk tidak mudah menjustifikasi peserta didik ketika melakukan kesalahan. Ia menyarankan untuk aktif membangun pendekatan secara edukatif dengan wali murid dan peserta didik.
“Kadang peserta didik di sekolah baik, di rumah juga baik. Tetapi lingkungan yang sangat mempengaruhi tingkah laku anak untuk berubah,” terangnya.
Dibutuhkan, perlu untuk selalu berkoordinasi dan meminta pendampingan dengan ahli psikologi. Jika diperlukan psikolog di undang ke sekolah untuk mengajari anak bagaimana cara mengelola emosi, menyalurkan minat dan bakat. Upaya ini akan lebih efektif untuk menyelesaikan persoalan peserta didik di sekolah.
Magister Psikologi Universitas 17 agustus 1945 surabaya (Untag) Surabaya tersebut memaparkan data kabupaten/kota yang paling tinggi tingkat kekerasan terhadap peserta didik. Baik kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran dan eksploitasi adalah Kabupaten Jember, Surabaya dan Sidoarjo. Sementara yang paling rendah adalah di Kabupaten Kediri.
“Namun secara keseluruhan, Provinsi Jatim dari tahun 2017, tahun 2021 mengalamai penurunan yang sangat singnifikan,” pungkasnya.












