Azhar, Pamekasan
Pertanyaan: Apa pengertian بيع الدين بالدين dan contoh gampangnya ? Terima kasih
Jawaban:
Jual beli hutang adalah transaksi yang objeknya berupa hutang dengan dibayar hutang baru yang harganya lebih mahal. jual beli ini dalam Hadits riwayat Ibnu Umar di sebut juga dengan bai’ al kali’ bi al kali’ (jual beli tempo di bayar dengan tempo ). Dan jual beli ini di haramkan berdasarkan nash hadits.
Contoh : A membayar uang cash untuk pesan beras pada si B, dengan tempo 1 bulan lagi ( ini akad salam), Pas jatuh tempo 1 bulan, berasnya tidak ada. Maka A berkata ke B: “Tidak usah kasih beras. Jual saja hutang beras itu kepadaku dengan tempo 2 bulan lagi dengan harga lebih mahal, maka saat telah jatuh tempo dua bulan si B membayar kepada si A dengan harga lebih mahal.
Referensi : al mausu’ah al kuwaitiyah 9/176
وَبَيْعُ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ هُوَ : بَيْعُ النَّسِيئَةِ بِالنَّسِيئَةِ .قَال أَبُو عُبَيْدٍ : صُورَتُهُ : أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُل الدَّرَاهِمَ فِي طَعَامٍ إِلَى أَجَلٍ ، فَإِذَا حَل الأْجَل يَقُول الَّذِي عَلَيْهِ الطَّعَامُ : لَيْسَ عِنْدِي طَعَامٌ وَلَكِنْ بِعْنِي إِيَّاهُ إِلَى أَجَلٍ . فَهَذِهِ نَسِيئَةٌ انْقَلَبَتْ إِلَى نَسِيئَةٍ . فَلَوْ قَبَضَ الطَّعَامَ ، ثُمَّ بَاعَهُ مِنْهُ أَوْ مِنْ غَيْرِهِ ، لَمْ يَكُنْ كَالِئًا بِكَالِئ. وَلاَ يَخْرُجُ الْمَعْنَى الشَّرْعِيُّ عَنِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ ، إِذْ هُوَ بَيْعُ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ. وَقَدْ وَرَدَ النَّهْيُ عَنْهُ فِي حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ ، وَقَال : هُوَ النَّسِيئَةُ بِالنَّسِيئَةِ. وَفُسِّرَ أَيْضًا بِبَيْعِ الدَّيْنِ ، كَمَا وَرَدَ التَّصْرِيحُ بِهِ فِي رِوَايَةٍ . )الموسوعة الفقهية الكويتية – (ج 9 / ص 176)
Jual beli al kali’ bi al kali’ yaitu jual beli tempo di bayar dengan tempo, abu Ubaid berkata : diskripsinya adalah seseorang menyerahkan beberapa dirham (uang) untuk membeli makanan untuk waktu tertentu, pada saat jatuh tempo si penjual (sang penerima pesanan) makanan, berkata aku tidak punya makanan (yang di pesan), maka jualah makanan itu padaku hingga masa yang akan datang, ini adalah hutang tempo yang di balik menjadi hutang baru, andai ia (sang pemesan) menerima makanan lalu menjualnya lagi kepadanya atau ke orang lain maka tidak termasuk bai’ al kali bi kali’, hal ini secara syariat masih tidak keluar dari makna secara kebahasaan karena hal itu adalah baiu ad dain bi ad dain, sungguh telah ada pelarangan tentang jual beli tersebut dalam hadits yang di riwayatkan Ibnu Umar RA bahwasanya Nabi SAW melarang jual beli tempo dibayar dengan tempo ia bersabda itu adalah jual beli an nasi’ah bi an nasiah, dan di tafsiri juga dengan jual beli hutang, (al mausu’ah al kuawaitiyah 9/176)
wallohu A’lam bis showab.










