Diana, Malang
Pertanyaan: apa daging aqiqah wajib hukumnya di bagikan secara masak?
Mbak diana yang dirahmati Allah SWT semoga hari anda selalu menyenangkan ..
Aqiqah adalah
ibadah yang sangat di sunahkan bagi orang tua untuk seorang
anak yang baru dilahirkan saat ia berumur 7 hari hingga ia baligh, jika dia sudah baligh maka terputuslah kesunahan orang tuanya untuk meng-aqiqoinya, ia harus berniat sendiri untuk aqiqah dirinya sendiri. Untuk laki – laki disunahkan 2 ekor kambing dan untuk anak
perempuan 1 ekor kambing,
عَنْ عَائِشَةَ أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ أَنْ َنعُقَّ عَنِ الْغُلَام ِبِشَاتَيْنِ وَعَنِ الْجاَرِيَةِ بِشَاةٍ (أخرجه الترمذي وابن ماجه وابن حبان والبيهقي)
Dari Aisyah r.a: “
Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk mengaqiqahi anak laki-laki dengan dua ekor kambing, dan anak perempuan dengan satu ekor kambing.”
Adapaun kesunahan dalam mendistribusikan daging aqiqah sbb :
1.
Sunnah memisahkan daging tanpa mematahkan tulangnya, jika terlanjur patah tidak makruh, sebagai bentuk harapan (tafaul) kepada Allah SWT agar anggota tubuh anak menjadi kuat (tidak cacat), namun andai memecahkanya maka tidak makruh
2. Sunah di bagikan kepada fakir miskin agar mendapat keberkahan
doa mereka
3. Sunah di bagikan secara matang, namun jika dibagikan secara mentah maka diperbolehkan
4. Sunah dimasak dengan rasa gak manis dengan harapan agar ahlak si anak menjadi baik
5. Sunah diantarkan ke pada para fakir miskin, namun jika mereka yang di undang maka diperbolehkan
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُنْزَعَ اللَّحْمُ بِلَا كَسْرِ عَظْمٍ تَفَاؤُلًا بسَلَامَةِ أَعْضَاءِ الْمَوْلُوْدِ قَالَ اِبْنُ الصَّباَّغِ وَلَوْ كَسَرَهُ لَمْ يُكْرَهْ فِي أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ وَيُفَرَّقُ عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ لِتَعُوْدُ الْبَرَكَةُ عَلَى الْمَوْلُوْدِ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لاَ يَتَصَدَّقَ بِهِ نَيِّئًا بَلْ مَطْبُوْخًا عَلَى الْأَصَحِّ وَيُسْتَحَبُّ طَبْخُهُ بِحُلٍّو عَلَى الْأَصَحِّ تَفَاؤُلًا بِحَلَاوةِ أَخْلاَقِ الْمَوْلُوْدِ……. قَالَ الرَّافِعِيُّ فِي مَجْمُوْعِ الصَّيْدَلاَنِي مَا نَقَلَهُ الْإِمَامُ عَنْهُ إِذَا طُبِخَ فَلَا يُتَّخَذُ عَلَيْهِ دَعْوَةٌ بَلْ اَلْأَفْضَلُ أَنْ يَبْعَثَ بِهِ مَطْبُوْخًا إِلَى الْفُقَرَاءِ نَصَّ عَلَيْه الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَلَوْ دَعَاهُمْ إِلَيْهِ فَلاَ بَأْسَ وَاللهُ أَعْلَمُ ) كفاية الأخيار – (ج 1 / ص 535)
Sunnah memisahkan daging tanpa mematahkan tulangnya sebagai Tafa’ul / harapan agar anggota tubuh bayi selamat, tidak cacat Ibn Shabbagh berkata : kalau terlanjur patah, tidak makruh menurut qaul ashah, Daging aqiqah dibagikan ke fakir miskin Supaya keberkahannya kembali ke si bayi, dan disunahkan disedekahkan dalam keadaan matang menurut pendapat paling shohih, dan disunahkan dimasak dengan rasa manis, sebagai tafa’ul agar akhlak anaknya manis, baik, Imam Rafi’i dalam Majmu’ as-Shaidalani. Imam Rafi’i berkata dalam Majmu’ as-Shaidalani menukil dari Imam al-Haramain: “Apabila daging aqiqah sudah dimasak, maka tidak perlu diadakan undangan atasnya. Bahkan yang lebih utama adalah mengirimkannya dalam keadaan sudah dimasak kepada orang-orang fakir. Ini telah ditegaskan oleh Imam Syafi’i r.a. Namun jika ia mengundang mereka untuk makan, maka tidak apa-apa. Wallahu a’lam.(Kifayatul Akhyar 1/535)