Surabaya, MUI Jatim
Dalam Ngaji Ngabuburit Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya yang bertajuk The Power of Sorry, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Dr. M. Hasan Ubaidillah, M.Si., menegaskan bahwa kata maaf memiliki energi yang luar biasa dalam mengubah seseorang maupun lingkungan sekitarnya. Dalam kajian tersebut, ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW memberikan teladan dalam memaafkan, bahkan kepada orang-orang yang menyakitinya.
Salah satu kisah inspiratif yang disampaikan adalah peristiwa Rasulullah SAW saat berdakwah di Thaif pada tahun 619 M. Setelah hampir 10 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah menuju Thaif bersama sahabatnya, Zaid bin Haritsah, menempuh perjalanan sekitar 150 km. Namun, penduduk Thaif tidak hanya menolak seruan Rasulullah, tetapi juga melempari beliau dengan batu hingga terluka di pelipis dan tumitnya.
“Ketika Rasulullah SAW berlindung di pinggiran kota, Malaikat Jibril datang menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung. Namun, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah menolak dan justru mendoakan mereka agar mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Doa beliau akhirnya dikabulkan, dan generasi setelahnya banyak yang memeluk Islam serta menjadikan Thaif sebagai daerah yang subur dan makmur,” katanya, Ahad (16/03/2025).
Contoh lain dari kekuatan maaf Rasulullah SAW adalah kisah beliau dengan seorang pengemis Yahudi buta di pasar Madinah. Pengemis ini selalu mencaci maki Rasulullah dengan sebutan pembohong dan penyihir. Namun, Rasulullah justru datang setiap hari menyuapinya dengan lembut. Setelah wafatnya Rasulullah, kebiasaan ini diteruskan oleh Khalifah Abu Bakar.
“Saat pengemis itu mengetahui bahwa orang yang selama ini menyuapinya adalah Rasulullah SAW yang ia caci maki, ia menangis dan akhirnya mengucapkan syahadat,” terangnya.
Dr. M. Hasan Ubaidillah menekankan bahwa kisah-kisah ini menunjukkan betapa besar kekuatan maaf dalam mengubah hati seseorang.
“Jika Rasulullah SAW yang begitu dihina dan disakiti masih bisa memaafkan, maka sudah seharusnya kita sebagai umatnya meneladani sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
ia menyampaikan bahwa ketika seseorang dengan lapang hati memaafkan kesalahan sahabatnya, Allah akan membukakan pintu rahmat dan memberikan kekuatan luar biasa.
“Bahkan, orang-orang yang pernah menzalimi bisa disadarkan oleh Allah SWT. Itulah kekuatan maaf, kekuatan memaafkan,” tambahnya.
Dengan mempraktikkan sikap pemaaf, seseorang tidak hanya mendapatkan kedamaian dalam dirinya, tetapi juga membuka peluang bagi orang lain untuk berubah menjadi lebih baik.
“Oleh karena itu, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, umat Islam diajak untuk memperbanyak istighfar, memaafkan sesama, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam menyebarkan kasih sayang dan kebaikan,” pungkasnya.












