Bagi seorang hafidzah berkemungkinan besar mendambakan mendapat pasangan seorang suami seorang hafidz. Dan Begitupun selabaliknya. Namun masalahnya, jodoh tidak lah ada yang mengetahui kecuali Allah. Pada Kenyataannya banyak ditemukan seorang hafidzah berjodoh dengan laki-laki biasa yang bukan seorang hafidz.
Jika demikian bagaimana agar tetap dapat menjaga hafalan Qur’an bagi seorang istri yang suaminya bukan hafidz? Menjawab hal ini, Pengasuh Asrama Darul Qur’an Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Mojogeneng, Jatirejo, Mojokerto Nur Millah Muthohharoh membagikan tujuh tips agar hafalan tetap terjaga.
Pertama menjalin kerjasama yang baik antara keduanya. Suami bisa memahami dan memberi kesempatan kepada istrinya untuk ‘nderes’ guna menjaga hafalan. Karena tugas setiap orang setelah menghafal adalah menjaga hafalan. Kedua suami meluangkan waktu untuk membantu menyimak hafalan Al-Qur’an istrinya. Ini dapat dilakukan setiap bakda sholat 5 waktu.
Selanjutnya yang ketiga menurut alumni Pesantren Amtsilati Darul Falah Jepara ini adalah Murojaah satu hari 5 juz.
“Barang siapa membaca lima, maka dia tidak akan lupa. Usahakan satu hari murojaah minimal 5 juz sampai lancar. Jika sudah lancar, maka menyesuaikan kesibukan. Jika waktunya tidak mencukupi, diusahakan jangan sampai tidak ada wirid atau bacaan yang tetap sehari-harinya. Harus ada, Entah itu 3 juz, 2 juz, atau 1 juz,” kata Ning Millah sapaan akrab Nur Millah Muthohharoh.
Kemudian yang keempat adalah sering mendengarkan murotal. Untuk melakukan poin keempat ini sekarang sangat terbantu dengan banyaknya media agar tetap mendengarkan bacaan Al-Qur’an kapan pun dan dimana pun. Kelima, ning Haroh menyarankan untuk tetap berusaha terus mencari guru jika suami tidak ada waktu untuk menyimak.
Keenam adalah berusaha untuk mengamalkan ilmunya dengan mengajar Al-Qur’an.
“Nah saat mengajar ini kalau melihat ada santri yang bisa diminta menyimak hafalanya. Maka baik dilakukan meminta santri menyimak hafalan,” ungkap alumni Pesantren Tahassus IIQ Jakarta itu.
Dan yang terakhir adalah membaca hafalan di dalam sholat. Bagi ustadzah muda ini, dari enam poin diatas yang terbaik adalah membacanya di dalam sholat. Mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an sampai khatam dan melancarkan hafalannya itu tidak serta merta hanya agar bacaan Al-Qur’annya lancar. Namun lebih dari itu menjadikan bacaan Al-Qur’an sebagai ibadah.












