MUI Jatim
MUI TV
  • Home
  • Profil
    • Sejarah MUI Jawa Timur
    • Susunan Dewan Pertimbangan dan Dewan Pimpinan MUI Jawa Timur 2025-2030
    • Pengurus KBL MUI
    • Pedoman Organisasi
  • Berita
  • Produk
    • LPPOM MUI
    • Sejarah MUI
    • DSN MUI
    • MUI TV
  • Fatwa
    • Kumpulan Fatwa MUI Jatim
    • Kumpulan Tausiyah
  • Info Halal
  • Bayan
  • Khutbah
  • Fiqih
  • Galeri
    • Video
    • Album
  • Halo MUI
    • Tanya Ulama
    • Tanya Jawab Islam
No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Sejarah MUI Jawa Timur
    • Susunan Dewan Pertimbangan dan Dewan Pimpinan MUI Jawa Timur 2025-2030
    • Pengurus KBL MUI
    • Pedoman Organisasi
  • Berita
  • Produk
    • LPPOM MUI
    • Sejarah MUI
    • DSN MUI
    • MUI TV
  • Fatwa
    • Kumpulan Fatwa MUI Jatim
    • Kumpulan Tausiyah
  • Info Halal
  • Bayan
  • Khutbah
  • Fiqih
  • Galeri
    • Video
    • Album
  • Halo MUI
    • Tanya Ulama
    • Tanya Jawab Islam
No Result
View All Result
MUI Jatim
No Result
View All Result
Home Berita

Bahaya Pemasaran Agresif Susu Formula

Prof. Djoko Santoso, Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim

OlehMUI Jatim
Rabu, 8 Jun 2022 - 19:26 WIB
Menertibkan Nalar Penanganan Pandemi
ShareTweetSend

Peringatan telak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seharusnya membangunkan kita untuk sebisa mungkin menjauhkan bayi kita dari susu formula.

WHO secara mengejutkan mengeluarkan laporan berjudul “How Marketing of Formula Milk Influences Our Decisions on Infant Feeding” (Bagaimana Pemasaran Susu Formula Mempengaruhi Keputusan Kita tentang Pemberian Makan Bayi). Laporan 32 halaman yang dipublikasikan tanggal 22 Februari di situsWHO ini intinya pemasaran susu formula makin tak terkendali dan bisa membahayakan kesehatan bayi secara global

WHO dan Badan PBB untuk Anak anak (UNICEF) melaporkan banyaknya praktik buruk pemasaran susu formula yang melanggar standar internasional. Secara strategis, ini menghambat pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif pada bayi. Laporan bersumber dari sampel wawancara dengan 8500 orang tua, perempuan hamil, dan 300 petugas kesehatan di delapan negara. Bangladesh, China, Meksiko, Maroko, Nigeria, Afsell, Inggris dan VIetnam. 

Meski tak termasuk sampel, Indonesia tetap perlu mengambil pelajaran serius dari laporan WHO ini. Ini mengingat pemasaran susu formula di sini tak kalah agresif. Lancef pada Agustus 2017 menegaskan, tak ada satu negara pun di dunia yang memenuhi standar yang direkomendasikan untuk investasi ekonomi dan implementasi kebijakan yang mendukung ibu untuk menyusui. 

Laporan menyoroti pemasaran susu formula yang sebagian besar melanggar standar internasional terkait praktik pemberian makan bayi. antara lain, teknik pemasaran industri susu formula dilakukan dengan menelepon pelanggan secara gencar dan invasif, membentuk jaringan tanya jawab interaktif, menyalurkan bantuan, promosi, dan pembagian hadiah. Bahkan, disebutkan lebih lanjut rekomendasi dokter dan petugas kesehatan. 

promosi yang gencar didengungkan ke orang tua dan petugas kesehatan sering menyesatkan, tak berdasar ilmiah. Ini melanggar The International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes (Kode Internasional tentang Pemasaran Pengganti ASI), perjanjian internasional yang disahkan oleh Majelis Kesehatan Dunia, 1981, untuk melindungi ibu dari tindakan agresif praktik pemasaran oleh industri makanan bayi. 

Peran Petugas Kesehatan

Jangkauan pemasaran ini sangat luas, yakni memanjangkan 84 persen perempuan yang disurvei di Inggris Raya, 92 persen wanita di Vietnam, dan 97 persen wanita di China, dan ini meningkatkan kemungkinan mereka membeli susu formula. Sebanyak 51 persen responden telah menjadi sasaran pemasaran perusahaan susu formula, dan sebagian besar melanggar standar internasional praktik pemberian asupan makan bayi. 

Melihat cakupan survei mulai dari negara maju seperti Inggris, negara berkembang seperti Vietnam, hingga negara terbelakang seperti Bangladesh, survei ini bisa dikatakan mewakili situasi global. Karena itulah, peringatan who ini menjadi penting untuk kita perhatikan bersama, termasuk para pemangku kebijakan di Indonesia.

Dalam praktik pemasaran agresif itu, petugas kesehatan jadi “ujung tombak” yang dapat melukai program ASI Eksklusif. Saran petugas kesehatan inilah yang berpotensi mempengaruhi orangtua untuk memilih susu dan makanan bagi bayinya.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut, laporan ini menunjukkan dengan jelas pemasaran susu formula selama ini menyesatkan, dan agresif. Karena itu, peraturan tentang pencegahan pemasaran susu formula yang eksploitatif harus segera diadopsi dan ditegakkan untuk melindungi kesehatan anak-anak.

WHO dan Unicef menyerukan kepada pemerintah, petugas kesehatan, dan industri makanan bayi untuk bersama-sama mengakhiri pemasaran susu formula yang eksploitatif dan sepenuhnya menerapkan serta mematuhi persyaratan. Langkah itu termasuk mengesahkan, memantau, dan menegakkan hukum untuk mencegah promosi susu formula hingga bisa mencapai kesepakatan yang sesuai Kode Internasional. Termasuk melarang klaim nutrisi dan kesehatan yang dibuat oleh industri susu formula.

Baca juga   MUI Jatim Bekali Santri Digital Marketing

Ulangan “The baby Killer”

Agresifnya pemasaran susu formula hingga melanggar kode etik bukan barang baru. Hampir 50 tahun lalu muncul publikasi “The Baby Killer”, A War on Want Investigation into the Promotion and Sale of Powdered Baby Milks in the Third World, diterbitkan 1974 oleh War on Want, organisasi yang didirikan awal 1950-an yang mengkampanyekan agar kemiskinan jadi isu sosial politik penting. Publikasi ini memaparkan betapa bahaya kesehatan bayi di dunia ketiga akibat gencarnya promosi susu formula yang mengesampingkan pemberian ASI. 

Seperti peringatan WHO terbaru, publikasi The Baby Killer ini sangat mengejutkan untuk zamannya. Industri susu formula yang umumnya konglomerasi di negara-negara Barat memberlakukan bayi di negara berkembang dan negara terbelakang seperti di negaranya sendiri, dengan membanjiri susu formula tanpa melihat ketidaksiapan perekonomian dan infrastruktur kesehatan, kemiskinan, dan perbedaan budaya. 

Bayi-bayi di negara berkembang dan miskin menjadi sakit karena diberi susu formula seperti lazimnya di negara maju di Barat. Jika tidak sampai sakit fatal, bayi-bayi ini terperangkap ke dalam lingkaran setan malnutrisi serta penyakit yang akan membuat mereka terhambat secara fisik dan intelektual seumur hidupnya.

Penelitian saat itu menunjukkan, bayi di Chile yang diberi susu botol selama tiga bulan pertama kehidupan memiliki angka kematian tiga kali lipat dibandingkan bayi yang hanya diberi ASI eksklusif. Hubungan antara pemberian susu formula sebagai pengganti ASI dan penyakit juga ditunjukkan pada beberapa penelitian di Jamaika, Yordania, India, dan komunitas Arab di Israel. 

Ini juga terjadi di negara maju. Di Inggris, negara maju dengan standar hidup tinggi dan sebagian besar keluarga hidup dalam kondisi higienis yang baik, bayi masih menderita infeksi yang ditularkan melalui botol susu, dan ini tercatat pada statistik rumah sakit.

Laporan ini sebenarnya bukan untuk membuktikan bahwa susu bayi membuat bayi jadi sakit. dalam kondisi optimal, dengan persiapan dan kebersihan yang memadai, pada lingkungan yang bersih dan sehat, susu bayi bisa jadi makanan yang memadai. Namun, kondisi di sebagian besar negara miskin dan berkembang sangat berbeda dengan di negara maju. 

Di negara-negara seperti ini, masyarakat berstandar hidup rendah, miskin, rumah tak layak, dan pada kondisi para ibu tak memiliki akses ke fasilitas kesehatan dasar seperti di negara maju. Dalam konteks demikian, susu bayi justru bisa berpotensi jadi pembunuh. 

Sebenarnya, penderitaan ini dapat dihindarkan dan solusinya melekat pada para ibu di dunia, yaitu dengan memberikan ASI pada bayinya. ASI adalah “paket kelahiran” dari Tuhan yang tak ada kembarannya. Keampuhan kualitas multi nutrisinya super dan tak tertandingi. dan terdapat limpahan kasih sayang dalam ASI. Memang ada sebagian sangat kecil ibu yang tidak dapat menyusui karena kondisi tertentu. Namun, secara umum, ASI terbukti secara medis sebagai makanan terbaik untuk bayi di bawah usia enam bulan. 

Kini, semakin banyak ibu di negara miskin dan berkembang memutuskan mengganti AsI dengan susu formula, selama beberapa bulan pertama kehidupan bayi mereka. Di antaranya karena rayuan manis promosi susu formula. Di tengah kondisi kemiskinan, minimnya infrastruktur kesehatan, dan malnutrisi, mengganti ASI dengan susu formula ini sering berpotensi jadi fatal. 

Baca juga   Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim Ngaji dengan Para Dokter Spesialis Jantung

malnutrisi merupakan bagian dari siklus kemiskinan dan infeksi. kekurangan gizi dapat melemahkan kondisi anak dan membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi. infeksi mudah terjadi dalam kondisi lingkungan yang jorok. Dalam konteks infeksi kronis, ini akan menghalangi usus (anak) menyerap nutrisi pada makanan, dan berujung pada malnutrisi berkelanjutan. malnutrisi menyebabkan lemahnya anak, rentan penyakit, serta berisiko tengkes. Begitulah terus berulang lingkaran setan malnutrisi. 

Mitos Sesat ASI

Sejak lama beredar beberapa mitos menyesatkan, yang mungkin sengaja disebarkan, untuk mengaburkan keampuhan ASI dan menggantikannya dengan susu formula. Michele Grisworld, konsultan Unicef, termasuk yang gigih meluruskan beberapa mitos ini. 

Di antaranya, mitos bahwa banyak ibu yang tak mampu menghasilkan ASI yang cukup. Faktanya, hampir semua ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup bagi bayinya. Juga mitos bahwa bayi yang disusui dengan ASI akan menjadi manja dan tak mau lepas dari ibunya. Manja dan lengket ke ibunya adalah karakteristik individual bayi, bukan akibat dari mengkonsumsi ASI. Dan, bayi yang lengket ke ibunya adalah sesuatu yang alamiah, bukan hal yang buruk. Bukankah ibu adalah guru dan sekolah pertama kehidupan?

Ada mitos, jika ibu menyusui dengan ASI-nya, bayinya takkan bisa lagi diberi susu formula. Grisworld menjelaskan, susu formula tetap dapat diberikan saat-saat tertentu, termasuk pada masa menyusui. Sebagai asupan tambahan, bukan pokok. 

Ada lagi mitos bahwa bayi yang disusui lebih dari satu tahun akan sangat sulit untuk disapih. Tak ada bukti yang mendukung hal ini. sebaliknya, menyusui sampai dua tahun justru menguntungkan untuk ibu dan bayinya. 

Fakultas Kedokteran di Johns Hopkins University menyebut Breast Milk is Best dalam laman daring resminya. ASI adalah makanan terbaik untuk bayi karena mengandung nutrisi yang tepat untuk perkembangan sistem saluran pencernaan bayi dan kandungan nutrisinya yang menyehatkan. 

Hal serupa diungkapkan WHO, Unicef, para dokter dan ahli kesehatan di seluruh dunia, serta Kementrian Kesehatan RI, pada laman resminya. 

Dibandingkan susu formula, nutrisi pada ASI, termasuk karbohidrat dan proteinnya, lebih mudah diserap sistem pencernaan bayi. ASI juga memiliki kandungan nutrisi yang pas untuk perkembangan otak dan sistem saraf bayi. Beberapa riset menunjukkan, bayi yang diberi ASI memperoleh skor lebih baik saat tes kecerdasan pada saat usia mereka lebih besar. 

Kandungan lemak dalam ASI juga bermanfaat untuk kesehatan mata bayi. ASI juga mengandung banyak zat anti-infeksi (seperti kolustrum dengan laktoferinnya dan sel imunitas yang menakjubkan) yang mampu mencegah infeksi ringan sampai berat, serta memiliki kandungan probiotik tinggi. 

Bayi lahir prematur yang diberi ASI memiliki risiko infeksi atau radang saluran cerna yang lebih rendah. ASI juga dapat mencegah kematian mendadak pada bayi, asma, penyakit kulit, alergi, diare, leukimia/kanker darah, penyakit kronis seperti diabetes dan obesitas. 

Manfaat ASI tidak hanya untuk bayi, tapi juga ibunya. Ibu menyusui berpotensi menurunkan berat badan yang lebih cepat setelah melahirkan dan risiko yang lebih rendah terhadap kanker indung telur dan payudara, serta diabetes. 

Diambil dair Kompas Tanggal 8/6/2022

Artikel Terkait

LAKPB MUI Jatim Siapkan Program Strategis Penanggulangan Bencana

LAKPB MUI Jatim Siapkan Program Strategis Penanggulangan Bencana

29/04/2026

Surabaya, MUI Jatim Lembaga Advokasi dan Koordinasi Penanggulangan Bencana (LAKPB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi...

Profil Prof. Abd. Halim Soebahar, Ketua Umum MUI Jatim 2025-2030

Profil Prof. Abd. Halim Soebahar, Ketua Umum MUI Jatim 2025-2030

23/04/2026

Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, M.A. merupakan salah satu ulama dan akademisi terkemuka di...

Momen Haru, Kiai Mutawakkil Sampaikan Pesan Mendalam di Akhir Kepemimpinanya

Momen Haru, Kiai Mutawakkil Sampaikan Pesan Mendalam di Akhir Kepemimpinanya

21/04/2026

Surabaya, MUI Jatim KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pesan penuh haru dalam momentum Rapat...

Nakhodai MUI Jatim, Prof Halim Sampaikan 3 Hal Penting

Nakhodai MUI Jatim, Prof Halim Sampaikan 3 Hal Penting

21/04/2026

Surabaya, MUI Jatim Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar ditetapkan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama...

Rapat Paripurna MUI Jatim Tetapkan Prof. Abd Halim Soebahar sebagai Ketua Umum Baru

Rapat Paripurna MUI Jatim Tetapkan Prof. Abd Halim Soebahar sebagai Ketua Umum Baru

20/04/2026

Surabaya, MUI Jatim Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Paripurna di Kantor...

Komisi Fatwa MUI Jatim Gelar Bimtek Pemotongan Hewan dan Pelaporan Audit secara Daring

Komisi Fatwa MUI Jatim Gelar Bimtek Pemotongan Hewan dan Pelaporan Audit secara Daring

20/04/2026

Surabaya, MUI Jatim Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Bimbingan Teknis...

MUI Keluarkan 10 Taujihat, Serukan Keadilan dan Perdamaian Dunia

MUI Keluarkan 10 Taujihat, Serukan Keadilan dan Perdamaian Dunia

16/04/2026

Surabaya, MUI Jatim Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan 10 poin taujihat yang dibacakan oleh 10...

Informasi Terbaru

LAKPB MUI Jatim Siapkan Program Strategis Penanggulangan Bencana

LAKPB MUI Jatim Siapkan Program Strategis Penanggulangan Bencana

29/04/2026 - 14:38 WIB
Ketika Amanah Berpindah dalam Sunyi: Air Mata Ulama, Doa yang Mengalir, dan Lahirnya Kepemimpinan Tanpa Ambisi

Ketika Amanah Berpindah dalam Sunyi: Air Mata Ulama, Doa yang Mengalir, dan Lahirnya Kepemimpinan Tanpa Ambisi

23/04/2026 - 12:00 WIB
Profil Prof. Abd. Halim Soebahar, Ketua Umum MUI Jatim 2025-2030

Profil Prof. Abd. Halim Soebahar, Ketua Umum MUI Jatim 2025-2030

23/04/2026 - 09:46 WIB
Momen Haru, Kiai Mutawakkil Sampaikan Pesan Mendalam di Akhir Kepemimpinanya

Momen Haru, Kiai Mutawakkil Sampaikan Pesan Mendalam di Akhir Kepemimpinanya

21/04/2026 - 12:00 WIB
Nakhodai MUI Jatim, Prof Halim Sampaikan 3 Hal Penting

Nakhodai MUI Jatim, Prof Halim Sampaikan 3 Hal Penting

21/04/2026 - 10:30 WIB

Tanya Ulama

Kirim pertanyaan anda seputar konsultasi syariah dan tanya jawab islam disini.

Konsultasi

Balut Filipina

Bela Sungkawa Atas Meninggalnya Non Muslim

Pembayaran Sistem COD

Rabu Wekasan

Bersalaman dengan Ibu Guru

Fatwa MUI

Fatwa

Taushiyah DP MUI Provinsi Jawa Timur Tentang Etika Beraktivitas Sosial Budaya di Ruang Publik

31/07/2025
Fatwa

Fatwa No. 1 Tahun 2025 tentang Penggunaan Sound Horeg

13/07/2025
Fatwa

Hasil Ijtima’ Ulama MUI se-Jatim Ke-II 2024

10/02/2025
Fatwa

Fatwa Nomor 1 Tahun 2023 tentang Hukum Politik Identitas

10/02/2025
Fatwa

Rilis 2 : Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa: Youtuber dan Selebgram Wajib Zakat

30/05/2024
MUI Jatim

Dapatkan informasi terbaru melalui:

Alamat

Jl. Raya Wisma Pagesangan No.204, Pagesangan, Kec. Jambangan, Surabaya, Jawa Timur 60233

Email: info@muijatim.or.id

MUI Provinsi

  • MUI Pusat
  • MPU Aceh
  • MUI Sumatera Utara
  • MUI Sumatera Barat
  • MUI Lampung
  • MUI DKI Jakarta
  • MUI Jawa Barat
  • MUI Jawa Tengah
  • MUI Kalimantan Selatan
  • MUI Kalimantan Timur
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2020 MediatrustPR. All Right Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Profil
    • Sejarah MUI Jawa Timur
    • Susunan Dewan Pertimbangan dan Dewan Pimpinan MUI Jawa Timur 2025-2030
    • Pengurus KBL MUI
    • Pedoman Organisasi
  • Berita
  • Produk
    • LPPOM MUI
    • Sejarah MUI
    • DSN MUI
    • MUI TV
  • Fatwa
    • Kumpulan Fatwa MUI Jatim
    • Kumpulan Tausiyah
  • Info Halal
  • Bayan
  • Khutbah
  • Fiqih
  • Galeri
    • Video
    • Album
  • Halo MUI
    • Tanya Ulama
    • Tanya Jawab Islam

© 2020 MediatrustPR. All Right Reserved