Surabaya, MUIJatim.or.id
Saat ini gawai terutama telepon genggam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lansia untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat maupun warga lain. Tantangan untuk menggunakan akses yang aman dan pintar yang membantu perlindungan data diri dari aneka kejahatan siber termasuk penipuan digital.
Oleh karena itu, Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja dan keluarga (PPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur kembali bekerja sama dengan Tular Nalar dalam program Akademi Digital Lansia pada Ahad (09/04/2023) yang diikuti oleh Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kota Surabaya.
Dr Udji Aisyah, Ketua Komisi PPRK MUI Jawa Timur mengatakan bahwa perkembangan teknologi memang memberikan segudang kemudahan bagi masyarakat di sektor pelayanan publik. Seperti di bidang komunikasi, transportasi dan ekonomi.
“Namun di samping itu, tidak sedikit juga adanya kemungkinan dampak-dampak negatif. Termasuk munculnya kejahatan baru yang menggunakan teknologi,” katanya.
Maka dari itu, menurutnya perlu mitigasi bagaimana mengurangi resiko, penyadaran dan peningkatan kemampuan menghindari kejahatan di dunia digital yang banyak menimbulkan korban.
“Kegiatan ini memberikan edukasi kepada para lansia agar mampu mengikuti perkembangan teknologi sehingga bisa mengisi dengan hal-hal yang positif dan mencegah agar tidak menjadi korban kejahatan digital,” terangnya.
Sedangkan jika dilihat penggunaan internet di Indonesia pada tahun 2021, dari generasi milenial 43,8 % yang berselancar di internet. Sementara generasi Z 28,6 %. Sedangkan Lansia yang berusia lima puluh tahun ke atas 3,6 %. Dari data ini bisa dilihat ada kesenjang yang cukup jauh.
“Padahal yang sering kali menjadi korban hoaks dan kejahatan digital adalah para lansia. Untuk itu Komisi PPRK menggelar kegiatan ini,” tandasnya.












