Jember, MUI Jatim
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Jawa Timur menggelar Pendampingan Pegiat Halal Mitra LPPOM Jawa Timur di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember, Sabtu (13/09/2025). Kegiatan ini menjadi langkah strategis memperkuat kapasitas pegiat halal sekaligus mempercepat proses sertifikasi halal di lima kabupaten kawasan tapal kuda: Jember, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Dalam sambutannya, Dr. H. Moch. Khoirul Anwar, S.Ag., MEI, perwakilan Direktur LPPOM Jawa Timur, menegaskan komitmen lembaganya dalam mendorong ekosistem halal di daerah.
“Kami hadir bukan hanya untuk memberi sosialisasi, tetapi juga mendampingi langsung pelaku usaha agar lebih cepat memahami proses sertifikasi halal. Dengan begitu, produk-produk UMKM Jawa Timur dapat segera bersaing di pasar halal nasional maupun global,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, MA, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak.
“Ekosistem halal tidak bisa dibangun hanya oleh regulator. Harus ada sinergi antara ulama, akademisi, dan pelaku usaha. Dengan kebersamaan, kita bisa memastikan keberlanjutan sertifikasi halal di Jawa Timur,” tuturnya.
Mewakili Dekan FEB Universitas Jember, Dr. KH. M. Fathurrozi, M.Si, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Kami di FEB Unej siap mendukung dengan sumber daya akademik. Para mahasiswa dan dosen bisa berperan aktif mendampingi UMKM agar standar halal benar-benar dipenuhi,” katanya.
Update Regulasi dan Peran Pegiat Halal
Sesi materi dibuka oleh Rudi Bawono, S.E dari Satgas Halal yang memaparkan perkembangan regulasi halal pasca BPJPH ditingkatkan menjadi badan setingkat kementerian.
“Dengan status baru BPJPH, ada percepatan kebijakan sekaligus penyesuaian teknis. Inilah yang harus dipahami para pegiat halal agar mereka dapat memberikan pendampingan yang tepat,” jelas Rudi.
Dilanjutkan oleh Lilik Fatmawati, S.Tp., M.A.P, yang menguraikan prosedur teknis sertifikasi halal.
“Pelaku usaha tidak perlu khawatir. Proses sertifikasi bisa dipandu oleh Lembaga Pemeriksa Halal, dan para pegiat inilah yang akan menjadi jembatan komunikasi,” ujarnya.
Tim Mitra Halal LPPOM Jawa Timur kemudian memfasilitasi sesi dialog mengenai skema kemitraan. Mereka menekankan bahwa pegiat halal berperan sebagai linkage antara regulator dan pelaku usaha.
Seorang peserta, Aisyah, pegiat halal asal Lumajang, mengaku mendapatkan banyak manfaat.
“Pendampingan ini membuat saya lebih percaya diri membantu UMKM di daerah. Kami jadi tahu detail teknis dan regulasi terbaru yang sebelumnya masih membingungkan,” katanya.
Dengan adanya pendampingan ini, LPPOM Jawa Timur berharap pegiat halal di daerah mampu menjadi ujung tombak percepatan sertifikasi halal, sekaligus mendorong tumbuhnya produk-produk halal yang berdaya saing tinggi di Jawa Timur.
Kegiatan ini ditutup dengan kunjungan peserta ke Zona Khas FEB Universitas Jember, yang digadang sebagai mitra strategis LPPOM Jawa Timur dalam memperkuat ekosistem halal di kawasan tapal kuda.












