Associate Professor, School of Social Sciences, Nanyang Technological University Sulfikar Amir mengatakan bonus demografi akan menjadi bencana jika tidak memberi kesempatan kepada anak usia produktif untuk berinovasi.
Hal itu ia sampaikan saat mengisi Webinar seri literasi pandemi ke-23 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim yang mengangkat tema “Proyeksi, Transisi dan Bonus Demografi Pasca Pandemi” melalui zoom meeting dan kanal Youtube MUI Jatim Jum’at (21/01/2022) malam.
“Karena kalau kita lihat dalam sistem ekonomi modern. Inovasi merupakan nafas dari pertumbuhan,” terangya.
Jika ingin mengejar pertumbuhan tetapi inovasi berjalan di tempat Maka pertumbuhannya akan bersifat awet dalam jangka panjang. Berbeda dengan negara-negara industry maju seperti Jepang, Taiwan, Singapura yang memiliki sistem inovasi yang benar-benar mapan.
“Banyak pengamat mengatakan indeks inovasi Indonesia memang relatif lebih rendah dibanding negara-negara yang lain khususnya di negara-negara Asia Tenggara. Bahkan lebih rendah dari Malaysia, Thailand. Mungkin masih lebih baik sedikit dari Vietnam,” ungkapnya,
Namun tidak perlu khawatir akan indeks inovasi di atas. Karena indikator yang dipakai tidak jelas. Parameter yang dipakai menguntungkan negara-negara yang telah memiliki struktur ekonomi berbasis teknologi tinggi. Sehingga ukuran inovasinya menjadi sangat tidak jelas.
“Kalau kita lihat inovasi itu secara lebih luas. Inovasi sebenarnya mencakup hal-hal yang sifatnya sosial dan kultural,” katanya.
Oleh karena itu seharusnya inovasi dilihat dari perspektif yang lebih luas juga. Untuk itu tidak perlu khawatir masyarakat Indonesia kekurangan daya inovasi. Karena kalau dilihat masyarakat Indonesia sehari-hari memiliki kapasitas dan kemampuan inovasi yang cukup tinggi.
“Karena inovasi itu biasanya muncul dari kebutuhan dan tantangan hidup. Itulah yang muncul dalam masyarakat Indonesia,” terangnya.
Banyak juga inovasi-inovasi yang bersifat sosial, teknologi yang menjadi karya-karya masyarakat Indonesia. Termasuk inovasi-inovasi sosial yang dihasilkan oleh berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Baik yang ada di kota atau di desa
Hadir dalam kesempatan ini Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim, Djoko Santoso. Dan dua pemateri lain, Adi Heru Sutomo Kepala Departemen Kedokteran Keluarga Universitas Gajah Mada (UGM). H. Jusuf Irianto selaku Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI Jatim.












