SURABAYA – Komisi PPRK Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim mengelar Sekolah Kebangsaan bekerjasama dengan UINSA Surabaya. Kegiatan ini dipusatkan di kampus setempat, Kamis (06/04/2023). Moh Ansori selaku Wakil Dekan III dalam sambutannya mengatakan setiap warga negara harus menguasai dasar-dasar negara dengan baik. Hal ini dikarena hidup di Indonesia, bukan dinegara lain. Oleh karena itu haruslah faham akan falsafah negara.
“Bukan secara kognitif, efektif, psikomotorik saja, bahkan kemudian harus dikaitkan dengan agama. Pancasila dikaitkan dengan pelajaran agama Islam, Kristen Budha dan seterusnya,” ujarnya.
Disebutkan bagunan masyarakat akan kuat jika didalamnya ada rasa kolektifitas atau kebersamaan. Jika konsep ini bisa difahami dalam forum kebangsaan ini, ia berharap peserta akan memiliki jiwa semangat kebersamaa sebagai warga Indonesia. Sadarlah bahwa sedang hidup di Indonesia, bukan di negara lain. Di Indonesia ada beraneka ragam suku, ras, bahasa, adat istiadat, geografis, yang harus disadari itu bagian dari kolektifitas semua warga negara.
“Ketika kita sadar bahwa beraneka ragam suku, ras, bahasa, adat istiadat, geografis adalah bagian kolektifitas kita. Maka kemudian kita harus memahami bahwa kita adalah sebagai anggota kolektifitas itu,” terangnya.
Setiap warga negara harus memiliki kesadaran dalam mempelajari falsafah dan idiologi negara. Agar faham mempunyai Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi fondasi dan dasar bagi berjalannya negara ini. Sebagai umat Islam tidak boleh membenturkan, apakah Pancasila Islami, apakah UUD 1945 Islami. Pasalnya para pendiri bangsa dengan penuh kearifan Pancasila digali dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu tidak perlu khawatir, baik Pancasila dan UUD 1945 sudah Islami. Tinggal bagaimana mendialogkan dengan pemaham sebagai muslim.
“Kita punya tanggung jawab bersama sebagai warga negara Indonesia. Tidak atas nama warga Surabaya atau Jatim. Tapi kita bergerak dalam kerangka warga negara Indonesia,” tandasnya.
Kemudian apa yang bisa dilakukan sebagai warga negara Indonesia? Ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Semangat kebangsaan ini diharapkan bisa menjadi pendorong untuk menatap masa depan.
“Semangat kebangsaan ini akan kemudian menjadi daya dorong untuk menjalani kehidupan,” pungkasnya.
Pewarta : Boy Ardiansyah












