Oleh: Dr. Romadlon Sukardi, MM. ( Ketua Komisi Hubungan Ulama Umara MUI Jatim)
Di sebuah siang yang tenang di Surabaya, ruang rapat Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur berubah menjadi ruang batin—tempat kata-kata tak lagi cukup menjelaskan peristiwa. Bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi sebuah momen ketika keikhlasan diuji dan ketulusan dipertontonkan tanpa panggung. Saat KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah memilih menepi demi kesehatan, yang hadir bukan hanya keputusan organisatoris, melainkan pelajaran hidup: bahwa mundur dengan lapang dada adalah bentuk tertinggi dari tanggung jawab.
Di sisi lain, langkah Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar menerima amanah bukanlah ekspresi ambisi, melainkan kepasrahan seorang murid terhadap panggilan gurunya. Di antara jeda kata, percakapan, dan doa-doa yang mengalir lirih, terselip getaran kemanusiaan yang begitu dalam—tentang cinta pada perjuangan, tentang adab dalam kepemimpinan, dan tentang air mata yang jatuh bukan karena kehilangan, tetapi karena kesadaran akan beratnya amanah yang kini berpindah tangan.
“Estafet Keikhlasan: Dari Keteduhan Seorang Kiai, Menuju Amanah yang Dipikul dengan Tunduk”
Air Mata di Ruang Paripurna: Ketika Amanah Diturunkan, dan Keikhlasan Dinaikkan
Di sebuah ruang yang tak hanya dipenuhi kursi dan meja, tetapi juga sejarah, doa, dan getaran batin para ulama—Rapat Paripurna Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur pada 20 April 2026 menjadi saksi bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal siapa menggantikan siapa. Ia adalah peristiwa ruhani—tentang siapa yang siap memikul amanah, dan siapa yang ikhlas meletakkannya.
Hari itu, waktu seakan berjalan lebih lambat. Nama KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah disebut bukan sekadar sebagai Ketua Umum yang mengundurkan diri, tetapi sebagai seorang kiai yang sedang menapaki fase tertinggi dalam kepemimpinan: mengalah kepada takdir dengan penuh keikhlasan. Alasan kesehatan yang beliau sampaikan bukanlah kelemahan—justru itu adalah kekuatan. Sebab tidak semua pemimpin berani berkata, “cukup sampai di sini, demi kebaikan yang lebih besar.”
Di Titik Itulah Air Mata Tak Lagi Bisa Disembunyikan.
Di sudut lain, nama Prof. Dr. KH. Abd. Halim Soebahar, MA., disebut sebagai penerus. Namun sesungguhnya, ini bukan tentang menerima jabatan. Ini tentang menerima panggilan.
Sebuah panggilan yang sebelumnya berkali-kali beliau hindari. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena adab: ingin tetap menjadi santri, bukan mengambil alih posisi kiai.
Kisah komunikasi pribadi antara beliau dan Kiai Mutawakkil—melalui pesan singkat hingga percakapan telepon panjang—menjadi potret betapa kepemimpinan ulama tidak lahir dari ambisi, melainkan dari istikharah, dari tunduk pada kehendak Allah, dan dari dorongan moral seorang guru kepada muridnya.
Ketika akhirnya Prof. Halim menerima, itu bukan kemenangan pribadi. Itu adalah kepasrahan. Dan di situlah letak kemuliaannya.
Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Emil Elestianto Dardak berjalan dalam suasana yang tidak biasa. Formalitas organisasi berpadu dengan getaran spiritual. Setiap keputusan terasa seperti ditimbang bukan hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati dan doa.
Keputusan-keputusan strategis diambil: reposisi kepengurusan, penguatan bidang fatwa, ukhuwah, hingga penambahan elemen sekretariat. Namun sesungguhnya, yang paling monumental bukanlah struktur itu—melainkan nilai yang diwariskan.
Bahwa MUI bukan organisasi biasa. Ia adalah penjaga moral umat. Ia tidak memiliki “jamaah” secara formal, tetapi memiliki tanggung jawab atas seluruh umat.
Dan di tengah semua itu, kita menyaksikan satu hal yang semakin langka di zaman modern: kepemimpinan yang lahir dari keikhlasan, dijalankan dengan keteduhan, dan diwariskan dengan penuh adab.
Air mata yang jatuh hari itu bukanlah tanda kesedihan semata. Ia adalah tanda cinta. Cinta kepada amanah. Cinta kepada perjuangan. Cinta kepada nilai-nilai luhur yang selama ini dijaga oleh para ulama Jawa Timur.
Pergantian ini bukan akhir. Ini adalah estafet. Dari tangan yang mulai lelah karena sakit, menuju tangan yang gemetar karena tanggung jawab.
Dan kita semua tahu—di balik itu semua—ada satu kekuatan yang tak terlihat, namun sangat nyata: doa para kiai, doa para santri, dan doa umat.
Di situlah sebenarnya kepemimpinan itu hidup.
Bukan di podium.
Bukan di jabatan.
Tetapi di hati yang bersujud,
dan air mata yang jatuh diam-diam,
demi menjaga umat tetap dalam kedamaian. Wallahu A’lamu Bisshawab.
Surabaya, 21 April 2026












