Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengulas sejarah pandemi saat menjadi narasumber pada webinar Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim. Dalam seri ke-29 ini ‘Membaca Dampak Positif Pasca Pandemi’ menjadi tema yang dibahas pada Jum’at (28/01/221) melalui zoom meeting dan kanal Youtube MUI Jatim
Dalam masa modern pandemi tidak terjadi hanya saat ini saja, paling tidak dunia telah mengalami dua kali pandemi. Pada tahun 1918 dunia mengalami pandemi flu Spanyol.
“Flu ini sebanrnya dari Amerika, tapi kenapa disebut flu Spanyol? Karena penyakit ini dibawa oleh para prajurit Amerika saat perang dunia pertama pecah di Eropa,” katanya
Dari sini kemudian diketahui menyebar di Spanyol. Sehingga pada akhirnya disebut sebagai flu Spanyol. Di Indonesia sendiri yang saat itu masih Hindia Belanda terinfeksi flu Spanyol pertama di Semarang dan Surabaya. Dua kota ini saat itu mempunyai pelabuhan yang sangat sibuk dan disinggahi kapal-kapal dari luar negeri yang ternyata membawa flu Spanyol itu.
Penyebaran flu Spanyol sangat masif di seluruh wilayah Indonesia. Jawa timur menjadi daerah yang paling tinggi masyarakatnya terkena flu ini. Ini disebabkan karena ketidak percayaan masyarakat Jatim atas sains modern. Yang kemudian dalam penangan penyakit ini masyarakat Jatim berpindah ke hal-hal lain.
“Seperti menganggap penyakit ini adalah hasil dari makhluk halus seperti roh jahat di pohon, sungai, batu besar dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Sayangnya pandemi flu Spanyol di Indonesia yang terjadi awal abad 20 ini tidak menyisakan dokumen apapun terkait apa yang terjadi. Dampaknya ketika mengalami pandemi, masyarakat Indonesia tidak mempunyai memori kolektif tentang pandemi dan penangananya.
Salah satu penelitian terkait flu Spanyol ini dilakukan oleh para akademisi dari Universitas Indonesia (UI) dengan diketuai oleh Priyanto Wibowo. Dalam hasil penelitian itu disebutkan untuk berobat masyrakat Jawa datang ke dukun, melakukan puasa, menyembelih hewan tertentu. Menculnya tanggapan yang demikian menandakan ilmu pengetahun modern memang masih sangat rendah difahami masyarakat saat itu.












