Jelang 1 Syawal 1443 Hijriyah, tentu kita pun mulai disibukkan dengan rencana agenda bersilaturahmi bersama keluarga maupun sahabat. Istilah yang sering disebut sebagai identitas silaturahmi adalah halal bi halal.
Halal bi halal sendiri, telah dijelaskan dalam sejarah, bahwa istilah tersebut dicetuskan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai bentuk mendamaikan para elite politik yang kerap berselisih paham pasca kemerdekaan tahun 1945 silam.
Saat itu, salah satu pendiri Nahdatul Ulama tersebut berkata pada Presiden Soekarno: “Para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling curiga dan saling menyalahkan. Padahal saling menyalahkan itu dosa. Dan dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah “halal bi halal”.
Subhanallah, bukan? Bahwa istilah tersebut untuk menghalalkan sikap manusia yang kerap berselisih pendapat dan sulit menerima perbedaan pendapat. Maka disinilah konteks sejati silaturahmi seyogyanya kita pahami sebagai ikhtiar kebersamaan dan persatuan.
Dijelaskan dalam sebuah hadis:
سيلاتوراهميتَزِيْدُ فِي الْعُمْرِ وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِ (رواه القضاعي عن ابن مسعود)
“Silaturrahim itu menambah umur, dan sedekah itu memadamkan murka Tuhan.” (HR. Qudha’i dari Ibnu Mas’ud, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadis nomor 5002).
Momentum silaturahmi, momentum penguatan ikatan persaudaraan, telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW tatkala mempersaudarakan sahabat Anshar Madinah dengan Muhajirin Makkah pada 12 Ramadhan tahun pertama setelah hijrah. Ikatan saudara kedua kaum semakin kuat tatkala mereka menghadapi kaum kafir dalam perang Khandaq.
Dalam kehidupan di masa sekarang, seyogyanya potret persaudaraan yang telah dicontohkan oleh kaum Anshar dan Muhajirin pun, harus terbangun oleh kita. Pentingnya membangun persaudaraan merupakan semangat penguatan ukhuwah Islamiyyah.
Dalam Islam, dijelaskan bahwa konsep dasar sikap Ukhuwwah Islamiyah adalah internalisasi diri bahwa sesama orang mu’min bagaikan anggota tubuh, sesuai kitab Shahih Bukhari hadis nomor 5703 dijelaskan:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَرَى الْمُٶْمِنِيْنَ فِيْ تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ اِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
Bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Kamu melihat orang-orang mu’min dalam kasih sayang, cinta mencintai dan belas kasih mereka seperti tubuh. Apabila tubuh itu mengaduh karena salah satu anggota badan (sakit), maka seluruh tubuh itu memanggilnya dengan jaga dan (dari) demam.”
Dengan begitu, jika sesama manusia menyadari bahwa semuanya merupakan saudara, maka hubungan sosial pun terjalin kuat dan sebaliknya, menghindari segala perilaku yang menyakiti sesama saudaranya. Terlebih jika ikatan tersebut diperkuat dengan momentum silaturahmi saat Bulan Syawal tiba.
Dengan silaturahmi, maka Insya Allah kita pun sedang membangun potret kebahagiaan diri. Karena silaturahmi adalah suasana yang menyenangkan satu sama lain, suasana keakraban yang menjadi pelebur segala perbedaan.
Akhir kata, semoga kita bisa membangun silaturahmi dengan keluarga besar, seperti anjuran Rasulullah SAW:
تَعَلَّمُوْا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُوْنَ بِهِ اَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌفِي الْأَثَرِ (رواه أحمد)
“Pelajarilah dari nasab-nasabmu apa yang kamu dapat bersilaturrahim dengannya, karena sesungguhnya silaturahim itu menyenangkan keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad, Kitab Al-Jami’us Shaghier, hadis nomor 3319).












