Surabaya – Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja dan Keluarga (PPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim mengelar sekolah kebangsaan di UINSA Surabaya, Kamis (06/04/2023) yang dipusatkan di kampus setempat. Ketua komisi PPRK, Uji Aisyah dalam sambutannya menegaskan berkontribusi menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI adalah mutlak harus dilakukan.
“Karena sesuatu yang sudah hancur sulit untuk dibangun kembali. Oleh karena itu, komitmen kebangsaan, komitmen kita kepada Allah sebagai hambanya yang taat adalah menjaga kesatuan NKRI sucara mutlak,” katanya.
Berkaitan dengan kegiatan Sekolah Kebangsaan, Aisyah mengatakan tujuannya untuk meningkatkan kualitas diri dalam menghadapi perkembangan teknologi yang tidak di 4.0 lagi, tapi sudah 5.0. Oleh karena itu saat ini dituntut untuk akomodatif dan adabtif dengan perkembangan yang sangat cepat. Hal ini karena teknologi yang demikian canggih sangat merubah pola fikir masyarakat. Disebutkan hal tersebut tidak bisa dijadikan lawan, namun harusnya dijadikan kawan. Sehingga perkembangan teknologi dapat diisi kegiatan yang positif.
“Saya pribadi ketika masuk di fakultas dakwah ini seperti masuk ke habitat. Karena saya ini alumni fakultas dakwah. Lalu dibesarkan oleh Universitas Airlangga di departemen sosiologi fakultas ilmu sosial dan politik. Tapi ingat, saya lahir di fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel,” ucapnya.
Dijelaskan, komisi PPRK MUI Jatim dalam tiga tahun terakhir bermitra dengan tular nara. Yang merupakan program literasi media bagi dosen untuk mengkampanyekan perdamaiaan dan pemikiran kritis. Di tahun 2021 PPRK sudah melakukan ToT untuk ormas. Pada tahun 2022 PPRK terlibat untuk menyelenggarakan kegiatan berkaitan dengan Lansia cerdas bermedia sosial.
“Pada tahun 2023 ini ada dua kegiatan. Yakni akademi digital Lansia dan sekolah kebangsaan untuk remaja,” ujarnya.
Jika dilihat penggunaan internet di Indonesia pada tahun 2021, dari generasi milenial 43,8 % yang berselancar di internet. Sementra generasi Z 28,6 %. Sedangkan Lansia yang berusia lima puluh tahun ke atas 3,6 %. Dari data ini bisa dilihat ada kesenjang yang cukup jauh.
“Padahal yang sering kali menjadi korban hoax adalah para Lansia. Untuk itu PPRK memiliki dua program, untuk Lansia dan remaja,” tandasnya.
Pewarta : Boy Ardiansyah












