Purwanto, Sidoarjo
Pertanyaan :
Kalau orang sudah miqot umroh, kemudian mau melaksanakan towaf, tiba-tiba haid, padahal 3 hari lagi sudah balik ke indonesia. Bagaimana solusi dan ketentuannya?
Jawaban:
Penanya yang budiman semoga hari – anda menyenangkan
Bagi soerang wanita yang sedang melaksanakan umrah dianjurkan suntik atau mengonsumsi obat penunda haid agar ibadahnya bisa dilaksanakan tanpa gangguan. Dengan catatan selama obat penunda haid tersebut tidak berbahaya baginya.
وَفِي فَتَاوَى الْقُمَّاطِ مَا حَاصِلُهُ جَوَازُ اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ لِمَنْعِ الْحَيْضِ اهـ (تلخيص المراد في فتاوى ابن زياد: ص 247)
Dalam kitab Fatawa al-Qummath ada keterangan yang kesimpulannya boleh menggunakan obat untuk mencegah haid. (Talkhish al-Murad fi Fatawa Ibn Ziyad, 247)
وَهٰذَا بِخِلَافِ مَا إذَا استَعْمَلَتْ دَوَاءً يَنْقَطِعُ بِهِ الْحَيْضُ فِى غَيْرِ وَقْتِهِ الْمُعْتَادِ فَإِنَّهُ يُعْتَبَرُ طُهْرًا وَتَنْقَضِي بِهِ الْعِدَّةُ عَلٰى أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَمْنَعَ حَيْضَهَا اَوْ تَسْتَعْمِلَ إِنْزَالَهُ إِذَا كَانَ ذٰلِكَ يَضُرُّ صِحَّتَهَا لِأَنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصِّحَّةِ وَاجِبَةٌ. اهـ (المذاهب الأربعة: ج 1 ص 60)
Hal ini berbeda jika ada wanita menggunakan obat agar haid tidak keluar, maka ia tergolong suci dan iddah menjadi tuntas dengan suci tersebut. Namun wanita dilarang menunda atau menghentikan haid dengan obat-obatan jika hal itu bisa membahayakan kesehatannya. Sebab menjaga
kesehatan hukumnya wajib. (Al-Madzahib al-Arba’ah, I/124)
Dalam hal ini
MUI telah membuat keputusan dalam
FATWA MUI TAHUN 1979 TENTANG PIL ANTI HAID.
Namun apabila kondisi haid telah terjadi, maka sebaiknya ia menunggu haidnya tuntas. Dan apabila waktu kepulangan telah mepet, maka solusinya adalah mengacu pada pendapat Almughni dan juga Almuzani dari kalangan Syafi’iyah dan madzhab Hanafi yang menyatakan thawaf tidak disyaratkan suci dari hadas kecil atau hadas besar.
فَأَمَّا الطَّهَارَةُ عَنْ الْحَدَثِ ، وَالْجَنَابَةِ ، وَالْحَيْضِ ، وَالنِّفَاسِ فَلَيْسَتْ بِشَرْطٍ لِجَوَازِ الطَّوَافِ. (بدائع الصنائع في ترتيب الشرائع: ج 4 ص 385)
“Adapun suci dari hadats, janabah, haid, dan nifas bukan menjadi persyaratan bolehnya tawaf”. (Badai’ al-Shanai’ Fi Tartib al-Syarai’, IV/385)