Memasuki bulan suci Ramadhan 1442 H umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan rasa syukur dan bahagia. Bagi kaum yang beriman, bulan Ramadhan memiliki banyak makna.
Tak hanya makna berdimensi spiritual, namun juga sosial.
Berpuasa secara spiritual merupakan wujud penghambaan diri tunaikan kewajiban sebagai perintah suci Sang Khaliq.
Secara sosial, berpuasa memiliki makna dengan spektrum yang lebih luas menyangkut kehidupan bermasyarakat.
Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan ibadah dengan imbalan pahala berlipat
dan predikat ketaqwaan.
Sejak terbit hingga tenggelamnya fajar, ummat Islam wajib berpuasa menahan lapar dan dahaga sembari mengekang hawa nafsu.
Di malam hari, ritme ibadah tak berhenti karena juga disunahkan shalat Tarawih, tadarus al Quran, qiyamul lail, dan ibadah
lainnya.
Denyut spiritual kian intensif dengan ikhtikaf menjelang akhir Ramadhan disertai pengharapan menemui malam seribu bulan atau lailatur qadr.
Jika kita ingin melihat betapa khusuk setiap pribadi hamba beriman dalam beribadah kepada Allah, lihatlah kegiatan mereka di bulan
Ramadhan yang tak pernah dapat ditemui pada bulan lainnya.
Menyadari betapa banyak dosa, hampir tak ada waktu yang diabaikan karena Ramadhan merupakan bulan pengampunan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda yang artinya: “Sholat lima waktu, hari Jumat ke Jumat mendatang, dan bulan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya dapat menghapus dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim).
Sementara itu, makna sosial ibadah puasa merupakan tesis yang menegaskan betapa bulan Ramadhan mengandung sejuta kemuliaan. Salah satu kemuliaan Ramadhan terkait langsung dengan tujuan kewajiban berpuasa yaitu agar mencapai pribadi berderajad taqwa (muttaqiin).
Ketaqwaan tak sekadar bersifat psikologis berupa kesalehan individu, namun juga sosiologis yaitu kesalehan sosial merujuk kebermanfaatan bagi orang lain hingga mampu melengkapi segala “kebaikan” dalam kesalehan individu.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”.
Tak hanya menahan lapar dan dahaga serta rukuk dan sujud, puasa tak menyurutkan niat untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan berpuasa justru selalu peka terhadap segala permasalahan yang butuh solusi sosial.
Kesalehan sosial memberi nilai tambah (added-value) bagi kesalehan individu.
Kesalehan sosial melampaui kesadaran terhadap syariat untuk menerapkan Islamic values, yakni perilaku ekstra bersifat sosial dengan berbuat kebaikan secara massif untuk kepentingan masyarakat.
Nilai kesalehan individu bersifat menunjukkan hubungan vertikal dengan Allah (hablun-minallah), kesalehan sosial merujuk pada hubungan horizontal dengan manusia (hablun- minannaas).
Dalam khasanah ilmu manajemen terdapat konsep organizational citizenship behavior (OCB) yang dipopulerkan Dennis Organ pada tahun 1988 berbasis teori-teori motivasional.
Dengan kesalehan sosial, hamba Allah yang sedang berpuasa tetap termotivasi untuk memberi kontribusi ekstra kepada semua pihak tanpa berharap pengakuan dan imbalan.
Saat ini semua bangsa di dunia sedang dalam masa prihatin dengan adanya pandemi Covid-19.
Beberapa negara bahkan hingga saat ini masih restriktif dengan menutup (locked-down) beberapa kegiatan non-esensial.
Sementara bagi bangsa Indonesia, saat ini pun menghadapi situasi pilu berupa bencana alam dahsyat di berbagai wilayah.
Korban berjatuhan sementara masyarakat sangat membutuhkan kontribusi semua pihak guna meringankan penderitaan.
Puasa pada bulan Ramadhan tahun ini menjadi tantangan untuk segera bertindak merealisasikan segala bentuk kesalehan sosial.
Masyarakat butuh tindakan nyata. Solidaritas akan kehilangan makna jika kepedulian antar-sesama memudar, rasa kemanusiaan menghilang, dan penderitaan manusia dianggap sekadar sebagai “fenomena alam”.
Empati dan emosi dalam ikut merasakaan lapar dan dahaga sebagaimana dialami masyarakat rentan butuh kegigihan sekaligus kesabaran untuk merealisasikannya melampaui batasan naratif.
Saatnya sekarang mentransformasikan ide humanisme dalam bentuk kegiatan nyata yang mampu meringankan penderitaan manusia seraya membangun kohesivitas dalam bentuk penguatan modal sosial.
Semangat kesalehan sosial bahkan melampaui batas kemanusiaan untuk memberi kasih sayang tanpa memandang suku dan agama.
Puasa bukan sekadar kewajiban rutin untuk menahan lapar.
Nilai tambah ibadah berpuasa justru mampu menggugah etos dan akhlak untuk selalu peduli terhadap sesama. (*)
Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Prof Jusuf Irianto Ketua Komisi MUI Jatim: Puasa adalah Kesalehan Individu dan Sosial












