Gresik, MUI Jatim. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik KH M Mansoer Shodiq menyampaikan tiga model hubungan Islam dan Negara dalam acara halaqah ulama dan umara, Sabtu (08/01/2022) yang bertempat di Masjid Agung Gresik.
Dalam acara yang mengangkat tema “Komitemen Ulama dan Mewujudkan Gresik Baru yang Bermartabat” tersebut hadir Ketua Umum MUI Pusat KH Miftachul Akhyar, sejumlah perwakilan MUI Jatim dan pejabat pemerintah termasuk Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah.
Tiga model hubungan Islam dan Negara itu adalah menyatu dan integralistik atau dikenal dengan hubungan simetris. Kemudian ada hubungan yang terpisah sekularistik atau asimetris, dan ada pula hubungan simbiotik Islam dan Negara berhubungan saling membutuhkan satu sama lain.
“Di dalam masyarakat sunni hubungan simbiotik menjadi pilihan utama, sehingga posisi agama sejajar dengan posisi Negara. Lantas yang manakah diantara tiga hubungan itu yang kemudian bisa diterapkan di Gresik,” ungkap kiai Mansoer
Sebagaimana yang telah diketahui, MUI merupakan rumah besar umat Islam yang memeliki peran pembimbing dan pelayan umat, sekaligus mitra pemerintah. Guna menjalankan peran yang strategis di tengah-tengah umat dan bangsa perlu mengingat pesan Rasulullah Saw.
“Bahwa baik buruknya umat ditentuka oleh dua golongan. Yaitu ulama dan umara,” terangya
Menurut kiai Mansoer disini letak pentingnya ulama, dan hubungan kerja sama timbal balik yang harus dibina oleh umara secara harmonis dan profisional sesuai peran masing-masing. Banyak ruang dan momentum yang dapat dilakukan ketika ulama dan umara saling mengisi, mengoreksi, dan berbagi peran.
Sebagai bangsa yang populasi muslim terbesar di dunia. Maka relasi ulama dan umara dalam konteks Gresik sebagai kota wali dan santri adalah sebuah keniscayaan.
“Sebab umara pasti membutuhkan ulama dalam hal nasehat-nasehat, fatwah-fatwah keagamaan yang konstruktif dan produktif. Sementara ulama tentu membutuhkan umara dalam rangka mendukung berbagai aktifitas kegiatannya,” jelasnya.
Dalam sejarah Nusantara sinergi antara ulama dan umara sudah terjalin sanagat mesra dan kuat. Sejak era kesultanan Aceh, kemudian Banjar Kalimantan, termasuk era wali songo di Jawa. Relasi yang sangat intim ini seolah-olah telah menjadi DNA bagi bangsa Indonesia yang terwariskan dari generasi ke generasi. Sehingga kendati terjadi dinamika dan pasang surut, tetapi secara umum relasi itu tetap terjalin dan terlihatt Indahbagaikan alunan nada dalam orkestra.
Penulis : Boy Ardiansyah












