Saat ini banyak sekali ahli debat dan ceramah agama, namun sedikit sekali teladan dalam menjalankan agama dengan ikhlas dan tulus. Dahulu ada salah satu guru kami mengamalkan hadits
مَن صلى الفجرَ في جماعةٍ ، ثم قَعَد يَذْكُرُ اللهَ حتى تَطْلُعَ الشمسُ ، ثم صلى ركعتينِ ، كانت له كأجرِ حَجَّةٍ وعُمْرَةٍ تامَّةٍ ، تامَّةٍ ، تامَّةٍ
“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi).
Beliau mengamalkan hadits ini dari mulai baligh sampai wafatnya, di masjid yang sama, di tempat duduk yang sama setiap harinya terkecuali ada udzur sakit, keperluan mendesak, saat pergi Haji atau Umrah. Inilah salah satu contoh istiqomah yang seharusnya kita teladani di tengah-tengah keadaan yang sepertinya agama ini hanya dijadikan ladang perdebatan ini dan itu.
Perdebatan tidak selamanya negatif asal ada tujuan mulia di belakangnya, kalo hanya untuk pamer kealiman, hanya untuk mempermalukan lawan debat, bahkan membunuh karakternya. itulah yang membuat hati kita gelap, umur kita habis untuk berdebat tapi miskin amal. Ucapan kita fasih dihadapan khalayak ramai tapi amburadul dalam kesendirian ibadah bahkan asal asalan.
Kita merindukan sosok sosok teladan yang ikhlas dalam beragama, tulus mencintai Tuhannya, lurus dalam menjalankan sunnah nabinya dan mempunyai hati rahmah pada setiap hamba Allah. Wajahnya apabila dipandang mengingatkan kita kepada Allah, cahaya haliyahnya mendahului ucapan lisannya. Hatinya adalah Samudera kearifan yang mampu menjadi magnet yang menarik orang untuk kembali kepada Allah. Kalaupun kita tidak menemukan sosok yang demikian, maka ayo kita berziarah ke maqom maqom para shalihin. Bertawasul kepada Allah untuk memberikan kepada kita hati yang baru. Yang dapat memberi kita kesadaran hakiki bahwa puncak agama ini adalah beramal dengan ikhlas bukan pintar-pintaran debat.
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعْبُدُواْ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya,”
Terakhir mari kita renungkan hadits Baginda Nabi Muhammad saw ;
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ { بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ } الْآيَةَ
“Dari Abu Umamah, ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda: “tidak akan tersesat suatu kaum setelah petunjuk selama mereka masih tetap di atasnya, kecuali orang-orang yang senang berdebat.” Kemudian Beliau membaca ayat ini: “tetapi mereka itu adalah kaum yang senang berdebat.”
Semoga Allah merahmati Imam Malik Ra yang berkata: Berdebat dalam Agama (tanpa cara dan tujuan yang baik) dapat membuat orang ngeyel mempertahankan pendapat masing-masing, menghilangkan cahaya ilmu dari hati, mengeraskan hati dan menimbulkan dendam dan permusuhan.












