KH Moh Hasan Mutawakkil ‘Alallah lahir pada tanggal (15/04/1959) di Genggong Probolinggo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH Hasan Saifourridzall dengan Nyai Hj Himami Hafshawaty.
Sejak kecil kiai Mutawakkil sudah dipondokkan oleh ayahandanya ke Pondok Pesantren Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang Jawa Tengah pimpinan kiai Imam. Namun pendidikannya di pesantren ini berjalan singkat, yakni selama 9 bulan. Anak kedua dari enam bersaudara itu pun lantas melanjutkkan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri, sekaligus menempuh pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Lirboyo, Kediri. Saat di Lirboyo, ia menggemari pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits.
Selama sebelas tahun (1979-1981), dirinya menekuni ilmu agama di bawah asuhan KH Marzuki dan Romo Kiai Mahrus Ali. Kiai Mutawakkil juga sempat mengenyam pendidikan tinggi di Faultas. Syari’ah Universitas Tribhakti Kediri dan ikut aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Setelah berhasil menggamit Sarjana Mudanya, dirinya melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Baru setahun menempuh kuliah, dirinya mendapat beasiswa untuk belajar di Al Azhar Kairo, Mesir.
Pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri, semisal ke Frankrut-Jerman, Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, ia mengambil inisiatif untuk study banding dengan biaya sendiri. Karena pada waktu itu, KH Mutawakil tidak mempunyai biaya yang cukup, ia kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja, termasuk menjadi pelayan restoran di beberapa negara yang ia kunjungi.
Dari studi banding itu, ia mendapat pengalaman berharga. ”Saya melihat hubungan antara hubungan kerja antara buruh dan majikan, ternyata akhlak Islam ternyata ada di Barat. Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata ia dijemput pulang oleh sang ayah pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, ia langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayandanya pulang ke haribaan Allah SWT.












