Ketua umum Mejelis Ulama Indonesia (MUI) KH Miftahul Akhyar menghadiri halaqah ulama dan umara yang diselenggarakan oleh MUI Kabupaten Gresik pada Sabtu (08/01/2022) di Masjid Agung Gresik.
Dalam kesempatan ini Kiai Miftah menyampaikan bahwa yang memiliki potensi besar untuk khosyatullah adalah ulama. Jika ada ulama yang tidak khosyatullah maka disebutnya ilmuan atau cerdik cendikiawan.
“Ini menandakan martabat ulama sangat tinggi, apalagi MUI diwakili oleh ormas-ormas Islam yang ada di Gresik ini. Tentu kader-kader terbaiknya yang didelegasikan untuk duduk di kepengurus MUI,” kata Kiai yang baru terpilih menjadi Rais Amm PBNU tersebut.
Oleh karena itu nilai-nilai Islam yang begitu tinggi ini, terlebih Islam menjadi agama terakhir yang diturunkan tentu akan melingkupi kesempurnaannya dari agama-agama yang lebih dulu diturunkan. Walaupun dari segi akidah sama dengan agama samawiyah, yakni ketauhidan. Karena yang dibawa oleh para Nabi adalah agama tauhid.
“Kedudukan akhir turunya agama Islam dan sempurnya agama Islam ini yang harus kita jelaskan ke tengah-tengah masyarakat. Jadi kesempurnaan itu yang harus kita tunjukkan ke masyarakat,” kata kiai yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang itu
Melanjutkan uraiannya, kiai Miftah menuturkan agar dakwah tidak berwajah marah, bengis, dan kejam. Tetapi penuh dengan siyasat-siyasat yang indah, sehingga umat tertarik dan simpati terhadap Islam. Sehingga istilahnya mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, mendidik bukan membidik, menyayangi bukan menyaingi, membela bukan mencela, dan sebaginya.
Kiai Mifta kemudian menyebutkan keberhasilan wali songa dengan dakwahnya yang tanpa mengakibatkan mengalirnya darah setetespun telah berhasil menjadikan Indonesia yang awalnya Hindu-Budha berbalik menjadi mayoritas muslim.
“Itu membuat Islam di Indonesia menjadi perbincangan di luar negeri, bahkan ada organisasi di Indonesia yang begitu lahir mendapatkan sambutan yang luar biasa. Dan sampai sekarang jumlah anggotanya melebih dari umat Islam di negara-negara Islam Timur Tengah,” terangnya
Disini tugas ulama untuk menjelaskan terutama tentang keadilan dan kejujuran. Karena keduanya merupakan sumber kebaikan. Menukil ungkapan Imam Ghozali Kiai Miftah menyebutkan hancurnya sebuah negara karena dua perkara.
“Kelemahan seorang penguasa dan ketidak jujuran penguasa. Penguasa ini saya terjemahkan ulama dan umara itu tadi,” terangnya
Meski antara ulama dan umara mempunyai karakter masing-masing tetapi harus saling beriringan.
Penulis : Boy Ardiansyah












