MUI JATIM – Ketua Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim KH Reza Ahmad Zahid mengingatkan seorang santri harus benar-benar membekali dirinya dengan ilmu sebelum menjadi tokoh terkenal atau seorang pemimpin. Hal itu disampaikan saat Wisuda Takhassus Bin Nadhor 9-22 Pondok Putra Pesantren Tebuireng Ahad (27/03/2022) di Gedung KH Yusuf Hasyim lantai 3 Ponpes Tebuireng Jombang.
“Kalian harus mengaji dengan serius sebelum nantinya memimpin masyarakat. Kalian harus memahami terlebih dahulu karakter masyarakat yang akan kalian pimpin sebelum kalian menjadi pemimpin mereka,” ujarnya.
Gus Reza sapaan akrab KH Reza Ahmad Zahid mengingatkan ketika seorang santri harus siap dengan segala kosekuensi saat menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat. Lebih lanjut, Gus Reza menekankan jika tidak menjadi pemimpin seorang santri harus siap untuk dipimpin. Jika santri tidak menjadi imam, maka santri siap menjadi makmum yang baik. Sikap demikian adalah sikap yang harus dimilii semua santri.
“KH Abdul Karim sering menyampaikan bahwa seorang santri paku. Pesan ini sering disampaikan oleh KH KH Abdul Azis Mansur. Filosofi paku adalah dapat menggandengkan dua hal yang berbeda menjadi satu,” ujarnya.
Seorang santri ketika di tengah-tengah masyarakat harus mempu menggandengkan menghubugan dua hal yang berbeda atau bahkan lebih dari dua hal yang berbeda. Santri harus mampu menyatukan hal-hal berbeda menjadi satu barisan. Namun perlu di perhatikan paku mempunyai banyak jenis. Santri harus mengetahui paku mana yang tepat dipakai sesuai yang dibutuhkan.
“Paku ketika digunakan itu tidak nampak. Kalau nampak malah akan di masukkan oleh pemiliknya. Filosofinya adalah santri tidak boleh takut tidak terlihat, tidak perlu takut tidak viral,” terangnya.
Penulis : Boy Ardiansyah












