Surabaya, MUIJatim.or.id
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar Diseminasi Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia dan Multaqa Duat Jawa Timur di Surabaya, Kamis (08/09/2022). Kegiatan ini digelar untuk konsolidasi para dai daiyah di Jawa Timur untuk mempersatukan umat. Hal itu dijelaskan oleh KH Ahmad Zubaidi, Ketua Komis Dakwah MUI Pusat.
“Kegiatan ini dimaksudkan agar para dai kita dapat mempersatukan umat. Mengingat sekarang kita berada di era disrupsi,” katanya.
Dirinya melanjutkan, bahwa para dai di era ini harus terbuka dengan perkembangan teknologi untuk berdakwah.
“Jika dulu kita berdakwah dari satu tempat ke satu tempat secara konvensional, hari ini kita harus mulai menggunakan teknologi digital untuk berdakwah. Karena kebiasaan lama ini lambat laun bisa tidak terpakai lagi karena ada metode baru yang akan menggantikannya yaitu teknologi,” lanjutnya.
Kiai Zubaidi mengungkapkan jika perkembangan teknologi ini tidak disambut baik oleh para dai, dikhawatirkan ruang-ruang dakwah diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten.
“Kalau itu tetap dilakukan bisa jadi nanti dakwah kita akan ditinggalkan dan yang mengisi ruang-ruang dakwah adalah dai yang bisa jadi secara kompetensi keagamaan dan kebangsaan masih dipertanyakan. Tentu ini akan berdampak negatif pada situasi masyarakat kita,” ungkapnya.
Selaras dengan itu, Dr KH M Hasan Ubaidillah Sekretaris MUI Jawa Timur menuturkan bahwa para dai bisa kalah jika tidak mengikuti perkembangan teknologi.
“Jika para dai tidak mengikuti nanti akan kalah dengan yang lain, jangan sampai para dai tidak paham dengan perkembangan teknologi,” tuturnya.
Selain itu, menurutnya perkembangan teknologi juga mengakibatkan dampak negatif yaitu post truth.
“Namun teknologi juga berdampak negatif yaitu melahirkan fenomena post truth atau pasca kebenaran yaitu yang salah jadi benar dan yang benar menjadi salah,” pungkasnya.












