Pertanyaan:
Bagaimana hukum memakai baju baru saat hari raya sementara ia memiliki hutang yang belum dilunasi?
Lukman, Jombang
Jawaban:
Saudara Lukman yang berbahagia,
Memakai baju terbaik (tidak harus baru) saat hari raya merupakan bentuk ekspresi memuliakan hari raya bukan agar telihat baik dalam pandangan manusia dan hukumnya sunnah. Sahabat Nabi yang Bernama Ibnu Umar memakai pakaian terbaik saat hari raya, begitu juga dengan Imam Syafi’i.
Dalam hadits Riwayat al-Baihaqi dan al-Hakim diungkapkan sebagaimana berikut:
عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ الْعِيْدَيْنِ أَنْ نَلْبِسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ. رواه البيهقي والحاكم
Artinya: “Diceritakan dari Al-Hasan bin Ali, ia berkata, ‘Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kami pada Idhul Adha dan Idhul Fitri agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan” (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim).
Bagi orang yang memiliki hutang telah jatuh tempo, sesungguhnya membeli baju baru untuk hari raya dengan menunda pembayaran hutang merupakan perbuatan zalim. Nabi Muhammad saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ،الحديث رواه البخاري
Artinya: “Diceritakan dari Abi Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: menunda membayar hutang (padahal dia) mampu, adalah perbuatan zalim”. (HR. al-Bukhari)
Apabila pembayaran hutang itu tidak jatuh tempo, maka ia boleh membeli baju baru untuk lebaran, sebagaimana keterangan dalam Syarh al-Nawawi ‘Ala Muslim berikut ini.
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ) قَالَ الْقَاضِي وَغَيْرُهُ الْمَطْلُ مَنْعُ قَضَاءِ مَا اسْتُحِقَّ أَدَاؤُهُ فَمَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَحَرَامٌ وَمَطْلُ غَيْرِ الْغَنِيِّ لَيْسَ بِظُلْمٍ وَلَا حَرَامٍ لِمَفْهُومِ الْحَدِيثِ وَلِأَنَّهُ مَعْذُورٌ وَلَوْ كَانَ غَنِيًّا وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مُتَمَكِّنًا مِنَ الْأَدَاءِ لِغَيْبَةِ الْمَالِ أَوْ لِغَيْرِ ذَلِكَ جَازَ لَهُ التَّأْخِيرُ إِلَى الْإِمْكَانِ. (شرح النووي على مسلم: ج 10 ص 227)
Artinya: “Perihal sabda Nabi Muhammad saw (مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ), al-Qadhi Husain berpendapat bahwa maksud dari المطل adalah menolak pembayaran yang seharusnya dilakukan, sehingga hukumnya zalim dan haram. Sementara menunda pembayaran bagi orang yang tidak mampu adalah tidak zalim dan tidak haram berdasarkan pemahaman hadits tersebut dan karena udzur. Apabila orang tersebut mampu namun tidak mungkin membayar karena hartanya belum ada di tempat atau lainnya, maka boleh menunda pembayaran.” (Syarh al-Nawawi ‘Ala Muslim 10/227).
Untuk itu, sebisa mungkin melunasi hutang karena menulasi hutang pada dasarnya menjaga harga diri.
عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوْبَتَهُ (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Deritakan dari Amar bin al Syarid dari bapaknya, ia berkata; Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu, menghalalkan harga diri dan memberikan sanksi kepadanya”. (HR. Ibnu Majah)












