MUI JATIM – Sudah menjadi ma’lum bahwa diantara hal yang harus diimani adalah Qodho dan Qodar. Semua yang ada, yang baik maupun yang buruk adalah sesuai dengan Qodho dan Qodar Allah SWT1.
Keyakinan ini lebih jelas digambarkan oleh Prof. Dr. Syeikh Hasan Hito ketika menahqiq Al Ushul wa Al Dhowabith karya Imam al Nawawi dengan ungkapan beliau:
ومعناه أن الله تبارك وتعالى قدر الأشياء في القدم وعلم سبحانه أنها ستقع في أوقات معلومة عنده سبحانه وتعالى وعلى صفات مخصوصة فهي تقع على حسب ما قدرها سبحانه وتعالى²
“Ma’na (iman kepada Qodho dan Qodar) adalah (meyakini bahwa) Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menentukan segala sesuatu sejak di zaman dahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengetahui bahwa segala sesuatu itu akan terjadi di waktu-waktu yang sudah diketahuiNYA dengan rincian segala sifat-sifatnya. Segala sesuatu itu terjadi sesuai dengan ketentuan Allah SWT,”
Seperti yang kita jalani, terkadang ni’mat yang kita rasa dan tidak jarang, musibah pun datang melanda. Ketika kita meyakini rukun iman yang tersebut di atas, maka kita pun harus meyakini sebagaimana ni’mat itu dari Allah, musibah pun demikian. Jika semua dari Allah, pastilah selalu ada faidah di dalamnya. Tidak hanya ni’mat yang berfaidah, musibah pun bisa mendatangkan faidah.
Sulthon al Ulama’ Syeikh ‘Izz al Din bin ‘Abd al Salam dalam karya beliau yang berjudul Fawaid al Balwa wa al Mihan menyebutkan bahwa dalam musibah pun banyak faidah. Dan seseorang itu bisa memetik faidah tersebut sesuai dengan kadar kualitasnya sendiri-sendiri; semakin tinggi kualitas seseorang maka semakin faham bahwa di dalam musibah senantiasa terdapat faidah.³
Syeikh ‘Izz al Din bin ‘Abd al Salam menyebutkan 17 faidah yang terdapat dalam musibah. Diantaranya adalah musibah yang menimpa kita bisa menghentikan rasa sok yang ada dalam diri kita yang andaikan tanpa kehadiran musibah, kita akan menjadi namrud-namrud baru; fir’aun-fir’aun baru.
Ke dua tokoh itu, ma’lum adanya, sebagai tokoh penguasa yang penuh bergelimpangan ni’mat, dari kesehatan, kekuatan hingga kekuasaan mereka miliki. Tapi ternyata hidup jauh dari musibah dengan ni’mat yang melimpah ini justru menghantarkan mereka kepada musibah yang lebih besar daripada sekedar musibah kesulitan ekonomi, dianggap hina oleh orang lain dan jauh dari kekuasaan di dunia ini. Dengan bergelimangan ni’mat tersebut, mereka berani menentang para Utusan Allah; Namrud menentang Nabi Ibrohim; Fir’aun menantang Nabi Musa ‘alaihima al Salam.
Lebih jelas, Syeikh ‘Izz al Din mengandaikan Namrud dan Fir’aun sebagai sosok yang berbeda dengan realita; andai mereka hidup penuh musibah; miskin, sakit-sakitan, tuli dan buta, maka mereka tidak akan seberani itu, penentang Nabi dan Rosul.
فإن نمرود لو كان فقيرا سقيما فاقد السمع والبصر لما حاج إبراهيم في ربه.⁴
ولو ابتلي فرعون بمثل ذلك لما قال: أنا ربكم الأعلى⁵
Sepenggal dari kitab ini, kita diajarkan untuk selalu berhamdalah di setiap keadaan kita. Menyukuri ni’mat tentu mudah dimasukkan dalam logika fikir kita tapi untuk menyukuri musibah, mungkin sedikit lebih dalam akan menantang iman melawan ego.
Sebagai penutup, Hadhrotur Rosul Muhammad صلى الله عليه وسلم mengajari kita untuk senantiasa mengucapkan Alhamdulillah di segala keadaan kita; Alhamdulillah alladzi tatimmu bini’matihi al Sholihat manakala ni’mat yang kita rasakan dan Alhamdulillah ‘ala kulli hal manakala musibah menimpa kita.
كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ إذا رأى ما يُحبُّ قالَ الحمدُ للَّهِ الَّذي بنِعمتِهِ تتمُّ الصَّالحاتُ وإذا رأى ما يكرَهُ قالَ الحمدُ للَّهِ علَى كلِّ حالٍ⁶
Sayyidah ‘Aisyah menggambarkan Hadhrotur Rosul dengan ungkapan ketika Beliau mendapatkan segala yang Beliau cintai Beliau dawuh:
الحمد لله الذي تتم بنعمته الصالحات
Dan tatkala Beliau mendapati yang kurang Beliau sukai, Beliau dawuh:
الحمد لله على كل حال
Hidup Beliau selalu dalam Hamdalah; Memuji Allah Dzat Yang Maha Sempurna.
Penulis : Achmad Roziqi
Santri Tebuireng
Maroji’:
[1.] Al Ushul wa Al Dhowabith, karya Imam al Nawawi,
[2.] ibid,
[3.] Fawaid al Balwa wa al Mihan, karya Sulthon al Ulama’ Syeikh ‘Izz al Din bin ‘Abd al Salam,
[4.] ibid,
[5.] ibid,
[6.] Sunan Ibn Majah.












