Suatu ketika, Prof Thohir Luth naik bus patas dari Kota Malang menuju Kota Surabaya. Kondisinya masih sepi. Prof Thohir hanya seorang diri dalam bus yang masih berhenti karena menunggu penumpang tersebut.
Setelah beberapa saat menunggu, penumpang lain tak kunjung naik. Guru besar Universitas Brawijaya Malang yang saat itu menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur ini pun mengajak supir bus untuk segera berangkat.
“Sampean turun saja, cari bus lain,” jawab supir yang tak mau menuruti ajakan Prof Thohir.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur 2010-2015 ini pun pasrah. Ia menyadari demikianlah risiko naik kendaraan umum; banyak sabar dan tawakkal.
“Untungnya supir dan kondekturnya tidak tahu bahwa saya Ketua MUI Jatim periode sebelum ini, jadi santai-santai saja,” cerita Wakil Ketua Umum MUI Jatim periode 2020-2025 ini dalam grup WA yang beranggotakan dewan pimpinan MUI Jatim.
Kisah berbeda disampaikan oleh Waketum MUI Jatim lainnya, Prof Abdul Halim Soebahar. Ia lebih sering memilih kereta api sebagai moda transportasi perjalanan pergi dan pulang Jember-Surabaya. Ia pun mengaku sering mengisi gerbong kereta seorang diri.
“Barokahnya khidmah di MUI, satu gerbong saya sendirian terus,” tulis guru besar IAIN KH Ahmad Shiddiq Jember ini di grup pengurus, lengkap dengan foto selfie-nya.
Prof Thohir pun menimpalinya dengan balasan jenaka. “Alhamdulillah, beliau penguasa kereta api, saya penguasa bus patas,”
Tertarik dengan obrolan tersebut, Sekretaris Umum MUI Jatim Prof Akhmad Muzakki pun bergabung dalam pembicaraan. Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini menyebut keduanya adalah CEO.
“Prof Halim itu Waketum MUI merangkap CEO KAI dan Prof Thohir Luth itu Waketum MUI merangkap CEO PO Restu,” tulis Prof Muzakki yang dilengkapi dengan emoji tertawa.
Demikianlah di antara materi perbincangan menarik di internal dewan pimpinan MUI Jatim. Di saat tidak membahas persoalan keumatan dan kebangsaan, mereka kerap membagikan kisah-kisah ringan keseharian yang unik dan menginspirasi.
Menurut Prof Muzakki, hal ini juga menandakan bahwa para pimpinan MUI Jatim memang memiliki komitmen kuat dalam berkhidmah di MUI Jatim serta sikap kesahajaan yang patut diteladani. Meski sebagian di antara mereka tinggal di luar kota Surabaya, ikhtiar untuk hadir dalam berbagai kegiatan selalu diupayakan, meskipun harus dengan cara naik kendaraan umum.
“Waketum Prof Halim Subahar selalu naik kereta api Jember-Surabaya PP, sedangkan waketum Prof Thohir Luth selalu naik bus antar kota Malang-Surabaya,” ungkap Prof Muzakki.












