Surabaya, MUIJatim.org – Kaum muslim di Indonesia umumnya melaksanakan ibadah puasa Ramadan selama 13 jam. Kendati ada perubahan waktu di setiap daerah, namun tidak ada perbedaan waktu lama puasa yang mendasar. Jika waktu subuh bergeser lebih siang dalam hitungan menit, otomatis waktu adzan maghrib juga bertambah lebih larut pula.
Namun berbeda dengan keadaan di belahan dunia lain. Prof Akhmad Muzakki, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur merasakan pengalaman yang berbeda dan cukup ekstrem saat menjalani puasa di Canberra, Australia. Hal itu dialami pada tahun 2002 saat ia mengawali kuliah S2 di The Australian National University (ANU) Canberra, Australia.
“Saat itu subuh di Canberra adalah pukul 03.30, jadi sahur paling aman adalah pukul 03.00. Lalu, apakah adzan Maghrib juga lebih awal layaknya pergeseran waktu di Indonesia? Sama sekali tidak. Maghribnya jatuh pada pukul 20.30, atau bisa bergerak lebih larut mendekati pukul 21.00,” katanya, Rabu (14/04/2021).
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi ketika Australia mengalami puncak musim panas.
“Sudah waktu siangnya panjang, panasnya cuaca pun juga luar biasa kering, potensi dehidrasi tinggi, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan sepanjang siang. Dan cuaca panas kering sekali. Aktivitas di luar pun harus dikurangi atau disesuaikan sedemikian rupa,” ucapnya.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu juga menceritakan pengalamannya terkait kegiatan qiyamul lail (shalat di malam hari) saat Ramadan di Canberra. Ketika Ramadan berada di puncak musim panas, adzan Isya’ baru berkumandang sekitar pukul 22.00 dan rangkaian shalat tarawih baru bisa selesai sekitar pukul 23.00.
“Apalagi jika akhir pekan, biasanya mahasiswa seperti saya selalu diundang pada acara buka bersama plus tarawih berjamaah oleh komunitas Indonesia di Canberra. Mereka mulai dari diplomat yang sedang bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di Canberra hingga perkumpulan keluarga mahasiswa sendiri,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa jika tarawih berjamaah bersama komunitas Indonesia saja berakhir jelang jam 23:00, maka perjalanan sampai rumah sekitar setengah jam berikutnya. Kalau sudah begitu, dilema lalu muncul, jam kala itu sudah di atas 23:00, mau sahur sebelum tidur, perut masih terasa kenyang habis ritual makan bersama. Akhirnya diniatilah untuk sahur jam 03:00 dini hari seperti pada hari-hari kerja biasanya.
“Namun karena tidurnya terlalu larut, seringkali juga bangunnya telat. Akhirnya tidak sahur, padahal waktu puasa kian panjang, siang hari pun merasakan lapar dan haus yang sangat,” tambahnya.
Tidak hanya itu, pria yang akrab disapa Prof Zaki itu mengungkapkan, jika suasana religius pun harus ia ciptakan sendiri. Bagaimana tidak, di Australia kaum muslim menjadi minoritas sehingga semua harus dikondisikan sendiri.
“Kita sendiri yang membuat ruang-ruang hidup kita religius atau tidak. Adzan? Kita sendiri mengondisikan lewat adzan digital di komputer atau gadget. Tilawah Alquran? Sama juga. Semua kita sendiri yang mengondisikan,” jelasnya.
Menurutnya, menjalani ibadah puasa Ramadan paling nikmat adalah di Indonesia. Sebab, waktu puasanya konstan, qiyamul lail bisa leluasa dan ruang publik yang mendukung karena semua menjadikannya religius.
“Lalu kita pun bisa hanyut dalam religiusitas ruang publik itu. Pikiran, perasaan, dan praktik perilaku kita terkondisikan dengan baik oleh religiusitas ruang publik selama Ramadan. Duh nikmatnya Ramadan di Indonesia,” ujarnya.
Prof Zaki pun teringat ayat dalam surah Ar-Rahman yang artinya ‘terhadap nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau akan dustakan’. Menurutnya, semua itu oleh Alquran diajarkan kepada kita agar jangan pernah sembarangan terhadap nikmat Allah, dan jangan pernah menyepelekan setiap berkah sekecil apapun.
“Sungguh nikmat yang luar biasa puasa di Indonesia. Masihkah kita akan menyia-nyiakan kesempatan dan nikmat puasa di Indonesia?,” pungkasnya. (*)












