Surabaya, MUI Jatim
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah, mengajak generasi muda untuk terus memperkuat semangat perjuangan dan keimanan di tengah derasnya tantangan zaman. Hal itu disampaikannya dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, sebagai refleksi penting untuk menjaga semangat nasionalisme dan keislaman di kalangan pemuda.
Dalam pesannya, Kiai Mutawakkil menegaskan bahwa setiap generasi memiliki ujian dan rintangannya masing-masing. Ia mengisahkan perjalanan pribadinya saat menempuh pendidikan di pesantren selama sepuluh tahun, yang juga penuh tantangan dan perjuangan.
“Kita juga pernah jadi pemuda, kita dulu juga menghadapi rintangan dan tantangan. Saya mondok selama 10 tahun itu tidak sepi dari rintangan dan tantangan,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, tersebut.
Namun, menurutnya, tantangan yang dihadapi oleh para pemuda masa kini jauh lebih berat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, para santri dan anak muda dihadapkan pada persoalan kompleks seperti arus informasi tanpa filter, disrupsi nilai, hingga tantangan menjaga keutuhan iman dan nasionalisme.
“Begitu juga anak-anak muda sekarang, mondok pasti akan menghadapi rintangan dan tantangan untuk menjaga Islam dan nasionalisme. Tapi kira-kira tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh kita jauh lebih ringan daripada yang dihadapi pemuda-pemudi zaman sekarang,” ujarnya.
Kiai Mutawakkil menekankan bahwa semangat Sumpah Pemuda 1928 harus terus dihidupkan dalam jiwa generasi muda Indonesia. Ia berharap para santri, pelajar, dan mahasiswa tidak hanya menjadi penghafal sejarah, tetapi juga pelaku sejarah baru yang mengisi kemerdekaan dengan karya, keilmuan, dan keteladanan.
“Semangat pemuda zaman dulu adalah semangat perjuangan, semangat mengorbankan diri demi bangsa. Sekarang, perjuangan itu bisa diwujudkan dalam bentuk menjaga moral, meningkatkan kapasitas diri, dan membangun kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.












