Pengantar
Khusus di dalam agama Islam, puasa ramadhan merupakan kewajiban pokok bagi umatnya , dan merupakan rukun Islam yang ke tiga. Demikian juga puasa di luar ramadhan juga menjadi amal ibadah yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah SWT. Yaitu puasa Sunnah dengan berbagai macam jenis dan caranya. Hal ini mengisyaratkan bahwa puasa, khususnya di bulan Ramadhan, adalah sebuah ibadah yang memiliki rahasia besar di dalamnya.
Apalagi jika dilakukan kajian mendalam, kita akan mengetahui, ternyata, di dalam kehidupan binatang juga ada perbuatan semacam berpuasa yang dilakukan oleh jenis binatang tertentu, sehingga mengalami perubahan wujud yang samasekali berbeda dengan sebelum “berpuasa”. Karena itu, kajian untuk menyingkap rahasia di balik Perintah Puasa Romadhon sangat penting untuk dilakukan.
Puasa Ramadhan Metode Merubah Karakter
Pada hakikatnya, manfa’at dan berbagai kebaikan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadhan secara disiplin dan keyakinan yang mendalam: Kebaikan secara; spiritual, psikologis, biologis dan sosial, hanyalah efek samping dari terjadinya proses perubahan karakter atau akhlak seorang yang lagi berpuasa dengan baik dan benar, (iimaanan wahtisaaban) saja. Jadi Inti rahasia atau rahasia terbesar itu adalah terjadinya perubahan karakter atau akhlak. Dari karakter kebinatangan atau keiblisan menjadi karakter kemalaikatan.
Menurut Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, pada dasarnya manusia memiliki empat karakter dasar : Bahimiyah, sabuiyah, shaithoniyah dan malaikatiyah. Dan masing-masing orang memiliki kekuatan jenis karakter yang berbeda. Karakter yang mendominasi seseorang itulah akhlak dan hakikat dirinya. Itulah wujud maknawi dirinya, dan dengan wujud itulah dia akan dibangkitkan dari alam kuburnya.
Karena Rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah memberikan kesempatan satu bulan penuh (bulan Ramadhan) setiap tahun, untuk merubah dirinya sendiri.
Rasulullah Saw, memberikan contoh dan bimbingan dengan puasa intensif di bulan Ramadhan. Puasa pemanasnya dilakukan mulai bulan Rojab, dan sya’ban, sedangkan puasa pendinginannya (colling down), di tanggal 2-7 bulan Syawal.
Perubahan karakter, sama dengan perubahan morfologi tubuh ruhani manusia, sebagai mana telur ayam berubah menjadi ayam, dan ulat menjadi kupu-kupu. Telur ayam dengan dierami, sedangkan ulat dengan kepompong.
Cukup dengan puasa yang intensif (disiplin dan penuh keyakinan), apapun bentuk karakter aslinya dia ; Bahimiyah (kebinatangjinakan), Sabuiyah (kebinatang buasan), maupun Shaithoniyah (Ke-setan-an), akan berubah menjadi ke-malaikat-an, yang disebut Muttaqin. Dan malam ‘penetasan’ atau metamorfosis spiritual itulah yang disebut Lailatul Qadar. Sehingga Lailatul Qadar, masing-masing orang waktunya berbeda-beda.
Untuk menjaga, agar bayi Muttaqin tidak mati dini dan bisa tumbuh menjadi dewasa dan perkasa, Rasulullah mengajarkan kepada kita berpuasa kembali mulai hari ke 2-7 di dalam Syawal. Dengan berubah menjadi Muttaqin, seseorang akan berubah kesukaan dan orientasi hidupnya. Dia berubah menjadi kemalaikatan, suka hal-hal kerohanian dan keilmuan, tetapi benci hedonisme dan kemaksiatan.
Penutup
Dengan demikian menjalani puasa ramadhan di tahun ini dengan sebaik-baiknya adalah sangat penting, karena belum tentu kita bisa mendapatkan bulan Ramadhan yang akan datang. Sebuah kesempatan untuk merubah hakikat diri sendiri, yang akan dibangkitkan untuk menghadap Ilahi robbi. Demikian juga puasa di awal bulan Syawal sangat penting untuk dilakukan.
Artikel ini ditulis oleh Dr. KH. Kharissudin Aqib, MAg., Pengurus Komisi Hubungan Ulama’ dan Umara’ MUI Jatim dalam program Hikmah Ramadhan kerja sama MUI Jatim dengan Tribun Jatim dan Harian Surya.












