Sepanjang tahun terdapat 11 bulan kita bergiat menjalankan mesin aktivitas yang sepenuhnya demi kepentingan kita sebagai makhluk, maka sebulan penuh berpuasa menyempurnakan kita dalam menghadirkan sifat dan sikap kehambaan kepada Allah subhanahu wa-ta’ala (SWT) dalam beribadah Ramadan.
Sebulan berpuasa itulah saat-saat kita mendinginkan mesin agar tidak mengalami kerusakan bila dijalankan terus-menerus. Sepanjang waktu berpuasa, kita selalu teringat dan merasa dilihat Sang Khaliq.
Meskipun dalam keadaan sendiri dan tidak diketahui orang lain kita tidak mungkin menyeruput minuman atau menyantap makanan. Kita berkomitmen menjalankan puasa karena Allah Ta’ala serasa dekat dan senantiasa melihat kita.
Ruang-ruang kenikmatan bagi orang-orang beriman pada bulan Ramadan, bukan saja pada saat kita bisa menjalankan ibadah berpuasa dan menunaikan salat tarawih berjamaah di masjid atau musala bersama keluarga dan kerabat dekat. Melainkan juga bagaimana kita bisa merasakan keindahan dalam menjalankan keseimbangan hidup.
Keseimbangan hidup merupakan wujud keindahan yang patut disyukuri. Misalnya, ketika kita diberi kenikmatan dan anugerah kebahagiaan bisa berbagi kepada orang lain. Keseimbangan itu juga bermakna lebih jelas dari dua sisi kehidupan: antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Bila pada kesalehan ritual kita merasakan kenikmatan dalam meraih keindahan dalam dimensi spiritual, maka pada kesalehan sosial itu pun bisa raih kenikmatan berbagi kebahagian dengan sesama atau kepada orang lain. Berbahagia bersama orang lain, bisa bersama keluaarga, orang-orang dekat, kerabat dan para sahabat kita.
Berbagi kebahagiaan bagi kaum mukminin dijalankan dengan satu orientasi penuh guna meraih rida Allah SWT. Bukan karena ingin dipuji orang lain, ataupun tanpa disertai rasa berbangga diri. Berbagi kebahagiaan diwujudkan sebagai manifestasi rasa bersyukur atas karunia dan anugerah Allah Ta’ala.
Dengan semata-mata meraih rida Allah Ta’ala kita melakukan kesalehan sosial itu sekaligus merasakan kebahagiaan dalam kehidupan kita.
Memang, ada di antara kita yang tidak senang bila orang lain bahagia. Namun, kita bersyukur, kita bisa merasakan bahagia menyaksikan orang lain bahagia saat menerima rezeki dan terpenuhi sebagian kebutuhan hidupnya.
Rezeki mereka sesungguhnya datang dari Allah SWT, sedangkan kita bersyukur karena diberi kesempatan untuk menyampaikan atau berbagi rezeki kepada orang lain itu. Berbagi kebahagiaan tidak semata-mata kita memberi santunan atau berderma kepada orang yang membutuhkan. Mengajak berkumpul para kerabat dan keluarga, serta para sabahat, dalam satu majelis untuk berzikir bersama disertai dengan makan bersama, juga termasuk berbagi kebahagiaan.
Dalam kitab Futuhul-Ghayb, Syaikh Abdul-Qadir Al-Jailani telah menyampaikan semacam peringatan bagi kita sekalian. Sulthanul Auliya’ itu mengatakan:
Artinya: “Jika Allah SWT telah memberikan harta benda kepadamu, kemudian kau sibuk dengannya dan melupakan taat kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan membuat penghalang antara kau dan Dia dengan harta benda tersebut di dunia dan akhirat.”
Boleh jadi, Allah SWT akan mencabut harta benda itu darimu, mengubah nasibmu, dan membuatmu menjadi miskin karena kau telah disibukkan dengan nikmat harta benda dan melupakan Dzat Yang Memberikan Nikmat.
Tetapi, jika kau sibuk dengan ketaatan kepada-Nya dan melupakan harta benda itu, Allah SWT akan menjadikannya sebagai pemberian (mauhibah), dan tidak akan mengurangi sedikitpun harta itu.
Harta itu akan menjadi pelayanmu dan kau akan menjadi pelayan Tuhanmu. Akhirnya, kau hidup di dunia ini dalam keadaan berkecukupan dan dimanjakan oleh kebutuhan yang terpenuhi. Dan di akhirat dalam keadaan diberikan kemuliaan dan diberikan kebaikan di Surga Ma’wa bersama shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.
(Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Futuhul-Ghayb)
Keutamaan-keutamaan Berbagi Kebahagiaan:
1. Mendapatkan Pahala Berlimpah
Keutamaan berbagi kebahagiaan, sama dengan keutamaan ketika kita bersedekah. Yang pertama adalah pasti akan mendapatkan pahala yang berlimpah. Sebab menyantuni orang yang membutuhkan merupakan sebuah bentuk amalan kebaikan yang bisa kita lakukan.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Al-Quran Surat Al-Hadid: 18).
2. Seperti Seorang Mujahid
Keutamaan menyantuni orang lain, fakir miskin dan anak yatim, disamakan pahalanya sebagaimana seorang mujahid. Sebagaimana sabda Rasulullaah shallallaahu alaihi wa salam bahwa:
Artinya: “Orang yang berusaha menyantuni janda dan orang miskin adalah seperti mujahid di jalan Allaah”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada sisi lain, Rasulullaah shallallaahu alaihi wa salam bersabda, bahwa seorang muslim yang menyantuni janda akan disamakan pahalanya dengan seseorang yang berpuasa di siang hari.
Sebagaimana dalam hadits berikut:
Artinya: “Orang yang berusaha menyantuni janda dan orang miskin adalah seperti mujahid di jalan Allah dan juga seperti orang yang salat malam dan berpuasa siang.” (HR. Ibnu Majah).
3. Bagaikan Menjalankan Salat Malam Hari
Keutamaan berbagi kebahagiaan, bersedekah bentuk berbagi yang lain, akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang menjalankan salat malam.
Sebab melaksanakan salat malam bukanlah perkara yang mudah dan dapat dilakukan oleh banyak orang. Hanya orang-orang mukmin yang saleh yang selalu meluangkan waktu untuk melaksanakan salat malam.
4. Meraih Kebahagiaan di Surga
Setiap amalan dan perbuatan baik pasti akan dibalas Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga bagi mereka yang menyantuni dan berbagi maka akan bisa masuk ke dalam surga Allah.
Sebagaimana hadits berikut ini:
Artinya: “Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan’. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan salat, ia akan dipanggil dari pintu salat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari Muslim).
5. Meringankan Beban Orang Lain
Dengan memberikan santunan kepada orang yang membutuhkan tentu akan dapat meringankan beban ekonominya.
Dengan adanya bantuan atau santunan akan sangat besar manfaatnya bagi seorang janda yang membutuhkan. Tidak hanya baginya melainkan juga bagi anak dan keluarganya.
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Artinya: “Sesungguhnya Allah menerima amalan sedekah dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Lalu Allah mengembangkan pahalanya untuk salah seorang dari kalian, sebagaimana kalian mengembangkan seekor anak kuda. Sampai-sampai sedekah yang hanya sebiji bisa berkembang hingga sebesar gunung Uhud.” (HR. Tirmidzi).
6. Berjihad di Jalan Allah
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Orang yang membantu para janda dan orang miskin adalah seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang selalu mengerjakan puasa di siang hari dan salat di malam hari.” (Muttafaq ‘Alaih). 7. Meleburkan Dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi). 8. Menggunakan Harta untuk Hal Bermanfaat
Keutamaan berbagi kebahagiaan sebagai bentuk memanfaatkan harta yang dimiliki.
Sebab banyak sekali yang memiliki kelebihan harta namun enggan berbagi kepada sesama terutama kepada mereka yang lebih membutuhkan.
9. Menyempurnakan Iman
Dari sahabat Rasulullah Al Harits bin Ashim Al Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan Alhamdulillah akan memenuhi timbangan, subhanallah walhamdulillah akan memenuhi ruangan langit dan bumi, salat adalah cahaya, dan shadaqah (sedekah) itu merupakan bukti.” (HR. Muslim).
10. Menjadikan Pribadi yang Senang Berbagi
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Artinya: “Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari).
11. Menambah Rezeki
Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
Artinya: “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim).
Demikianlah, wallahu a’lam bisshawab. Semoga bermanfaat. Amiiin.
Artikel ini ditulis oleh Dra Hj Faridatul Hanim, M.Kom.I., Wakil Sekretaris MUI Jawa Timur dalam program Hikmah Ramadhan kerja sama MUI Jawa Timur dengan Tribun Jatim dan Harian Surya.












