Surabaya, MUI Jatim – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur bersinergi dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan forum edukasi guna mengajak masyarakat agar lebih cerdas dan bijak dalam menggunakan media sosial. Acara ini dihadiri oleh berbagai perwakilan elemen bangsa, termasuk pengurus MUI, FKPT, Fatayat, Muslimat, PMII, Aisyiyah, RMI, dan HMI.
Dalam acara pembukaan, Sekretaris Umum MUI Jatim memaparkan pandangan tegasnya terkait ancaman nyata radikalisme yang mulai menyusup ke berbagai sektor vital negara. Beliau menyoroti laporan mengenai keterlibatan aparatur negara, perguruan tinggi, hingga sektor BUMN yang mulai terindikasi oleh aliran fundamentalis.
“Maka disinilah peran signifikan Majlis Ulama Indonesia yang disini ada badan penanggulangan terorisme dan radikalisme bersama-sama BNPT yang di Jawa Timur ada FKPT untuk mengantisipasi ini semuanya,” tegas Sekretaris Umum MUI Jatim dalam arahan dan sambutannya.
Urgensi kesadaran literasi digital ini juga diperkuat melalui analogi bahwa media sosial memiliki sifat layaknya air. “Medsos itu seperti air. Karena kalau kita kelola baik jadi kehidupan. Tapi kalau kita abai bisa jadi banjir yang menenggelamkan,” ungkap pihak perwakilan acara saat memandu keberlangsungan forum. Seluruh peserta yang hadir diajak untuk lebih mengendalikan “jempol” mereka agar setiap konten atau komentar yang dibagikan tidak bermuatan provokatif, melainkan mendatangkan pahala dan kehidupan yang baik.
Turut memperkuat pesan tersebut, Prof. Dr. Hj. Mutimadul Faidah, M.Ag., yang merupakan pengurus Komisi Pemberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga (PPRK) MUI Jatim sekaligus pembicara pertama dalam forum ini, mengingatkan kembali akar filosofis bangsa. “Bangsa kita dibangun oleh cinta, dibangun oleh kekeluargaan, dibangun atas dasar ramah dan damai,” terangnya di hadapan para peserta. Beliau menambahkan bahwa tanpa adanya kedamaian dan cinta di antara anak bangsa, sangat mustahil Indonesia bisa melangkah sejauh ini di tengah kuatnya terpaan berbagai gelombang masalah.
Lebih lanjut, Prof. Mutimadul Faidah memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan terkait masifnya pergerakan ideologi radikal di ruang siber. Tercatat ada puluhan ribu konten termasuk di Instagram, Facebook, dan TikTok yang dengan masif menyebarkan ide-ide kekerasan dan sikap anti NKRI.
“Kalau ini kemudian dikonsumsi setiap hari, maka pikiran-pikiran untuk menganggap bahwa Indonesia ini rusak, Indonesia ini hancur, Indonesia ini harus ganti sistemnya, ganti ideologinya, ini dengan mudah kemudian bisa tersebar,” peringat beliau mewanti-wanti.
Ke depannya, forum strategis ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata berkesinambungan antara MUI, FKPT, dan elemen masyarakat Jawa Timur dalam membentengi pola pikir umat, demi merawat keutuhan NKRI secara berkelanjutan.












