Surabaya, MUI Jatim — Bulan Muharram menempati kedudukan istimewa dalam Islam sebagai salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum). Salah satu amalan paling utama untuk mengawali pergantian Tahun Baru Hijriyah di bulan ini adalah melaksanakan ibadah puasa sunnah. Bahkan, berpuasa di bulan ini menduduki derajat paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan.
Berdasarkan tinjauan syariat, terdapat 3 momen puasa sunnah yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin di bulan Muharram. Berikut adalah rincian tata cara niat, keutamaan, beserta rujukan hadis dan kitab kuningnya:
1. Puasa Sunnah Muharram (Umum / Sepanjang Bulan)
Momen pertama adalah puasa sunnah mutlak yang tidak terikat oleh tanggal tertentu, melainkan dapat dikerjakan di hari apa pun sepanjang bulan Muharram sesuai kadar kemampuan (satu hari, beberapa hari, atau memperbanyak sepanjang bulan).
Referensi Kitab
Dalil Utama: Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim).
Rujukan Penjelasan Ulama:
Imam as-Shan’ani (w. 1182 H) dalam kitab At-Tanwir Syarh al-Jami’ as-Shagir (vol. 2, h. 568) menjelaskan bahwa penyandaran Muharram sebagai Syahrullah (bulan Allah) adalah bentuk pengagungan atas kemuliaannya. Nabi SAW banyak berpuasa di dalamnya guna mengawali tahun dengan perbuatan khair (kebaikan).
Syekh Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H) dalam Al-Minhaj al-Qawwim (vol. 1, h. 264) menegaskan dalam fiqih Mazhab Syafi’i bahwa berpuasa di bulan-bulan haram—termasuk Muharram—hukumnya disunnahkan, dan merupakan bulan paling utama berpuasa setelah Ramadhan.
Syekh Abdurrauf al-Munawi (w. 1031 H) dalam Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ as-Shagir (vol. 6, h. 162) mengaitkan ganjaran 30 kebaikan per hari tersebut dengan posisi Muharram sebagai gerbang pembuka tahun.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Lathaif al-Ma’arif (vol. 1, h. 67) menyatakan bahwa waktu yang paling utama untuk memperbanyak puasa Muharram adalah pada sepuluh hari pertamanya.
Lafal Niat
Para ulama menganjurkan melafalkan niat secara lisan guna membantu menghadirkan niat di dalam hati:
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shaumal Muharrami lillahi Ta’ala. Artinya: “Saya niat puasa Muharram karena Allah Ta’ala.”
2. Puasa Tasu’a (Tanggal 9 Muharram)
Momen kedua adalah Puasa Tasu’a yang dikerjakan secara spesifik pada tanggal 9 Muharram.
Keutamaan & Referensi Kitab
Hikmah Pembeda: Diwasiatkan oleh Nabi SAW sebagai bentuk menyelisihi (agar tidak serupa dengan) kaum Yahudi dan Nasrani yang hanya mengagungkan tanggal 10 Muharram saja. Penjelasan ini dijabarkan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ (juz 6, hlm. 383).
Dalil Hadis: Ketika para sahabat melapor bahwa hari Asyura sangat diagungkan Yahudi dan Nasrani, Rasulullah SAW bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharam).” Namun sebelum tiba tahun berikutnya, Rasulullah SAW wafat. (HR. Muslim).
Lafal Niat
Jika niat dilakukan di malam hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ. Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasu‘a esok hari karena Allah SWT.”
Jika niat baru dibaca pada siang hari (sebelum tergelincirnya matahari, dengan catatan belum makan/minum sejak subuh):
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatit Tasû‘â lillâhi ta‘âlâ Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasu’a hari ini karena Allah SWT.”
3. Puasa Asyura (Tanggal 10 Muharram)
Momen ketiga sekaligus yang paling populer di tengah masyarakat adalah Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Keutamaan & Referensi Kitab
Penebus Dosa Setahun: Nabi SAW bersabda: “Adapun puasa pada hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim no. 1162).
Rincian Ampunan Dosa: Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (juz 8, hlm. 51) memberikan catatan penting: dosa yang diampuni melalui puasa ini adalah dosa-dosa kecil. Jika hamba tersebut tidak memiliki dosa kecil, maka puasa ini diharapkan memberi keringanan atas dosa-dosa besarnya, atau menjadi sarana pengangkatan derajatnya. Adapun pengampunan total atas dosa besar tetap membutuhkan taubat nasuha.
Antusiasme Nabi SAW: Ibnu Abbas RA berkata: “Tidak pernah aku melihat Nabi SAW sengaja berpuasa pada suatu hari yang Beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari ‘Asyura’ dan bulan ini, yaitu bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).
Lafal Niat
Jika niat dilakukan di malam hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ. Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah Swt.”
Jika niat baru dibaca pada siang hari (sebelum matahari tergelincir):
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura hari ini karena Allah SWT.”
Catatan Penutup: Kesatuan Keutamaan Muharram
Sering kali masyarakat awam menduga bahwa anjuran puasa Muharram hanyalah pada tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 (Asyura) saja. Menanggapi hal ini, Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibn Hajjaj (juz 8, hlm. 55) menegaskan bahwa hadis riwayat Muslim di atas menunjukkan keutamaan berpuasa di bulan Muharram seluruhnya, bukan hanya pada hari kesepuluh.
Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai momentum memperbanyak amal ketaatan sebagai langkah nyata memperbaiki diri. Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.












